Kemarin dulu aku berangkat ke Rumah Film, meminjami film-film hiburan seperti biasa. Tiba-tiba tergerak untuk menonton film yang menimbulkan sendatan dan isakan, aneh, biasanya tidak. mungkin karena kehidupan dramaku sedang surut dan ombak sedang tenang (padahal air tenang tanda tak dalam, bahaya juga). mungkin sebenarnya ada arus deras jauh dibawah permukaan air tenang ini. yah, whaterver will be will be. lanjut.
yak mas rental menanyakan, udah nonton Juliet's letter? aku bilang. uh-oh, jangan yang itu mas.. yang romantis nyesek. dia menyahut, kalau 500 days of summer? yak yang semacam itu boleh. dia sambung lagi, kalo gitu ini aja mba,L'Appartment, film prancis. yang main Monica Belluci. oke.
aku pinjam, aku bayar, pulang lah aku.
tidak langsung kutonton, tapi ahirnya kusetel juga.
Dari awal penceritaan memang sudah langsung rumit. hahaha. dan makin banyak kejutan-kejutan nyesek. hanya saja, anehnya, air mata ini tidak tumpah, hidung ini bernafas lancar saja tanpa tertahan.
aku jadi berpikir, ini sebenanrnya film apaan? murah atau mahal? setelah selesai dan muncul credits pun aku termangu biasa saja. Ini film yang rumit, sama rumitnya dengan film Dot the i, bergairah dan nggak ketebak, sama sejenis. alur penceritaanya pun spontan dan pengenalan tokoh sangat minimalis. kalau boleh saya mengistilahkan, film kurang ajar. sama seperti pacar kurang ajar. selalu seru, dunia hanya milik berdua, sampai akhirnya kita tahu dia kurang ajar. sekalipun sudah tau, tetap saja menjalani hubungan sampai api diantaranya padam sendiri. (penulis mengarang bebas kata2 barusan).
setelah berpikir, kira-kira kesimpulanya:
1. aku terlanjur suka pada Monica Belluci, sehingga kalau jalan hidupnya dalam film tidak sesuai seleraku, aku merasa kecewa. yak, saya tidak objektif dalam menonton ini.
2. Aku menonton di rumah, banyak orang berlalu lalang mondar mandir. bikin ngga konsen. apalagi ini film prancis, tau lah.. sering bikin salah tingkah yang nonton. yak, saya butuh lebih privasi untuk menghayati sesuatu yang tabu.
3. tabu. film ini mengangkat masalah yang tidak biasa saya, sebagai manusia setengan wanita setengah anak-anak, jumpai dalam kehidupan sosial sekitar. mungkin ini dikarenakan kelangkaan hati nurani dalam dialognya. atau dikarenakan nuraniku masih berdinding tebal menghadapi yang tabu. aku masih belum melihat kebenaran. memang salah paham itu romantis, tapi, kebenaran itu justru harga suatu keindahan.
4. Kisah cinta yang klasik menurut pedomanku ialah yang tengah bertahan dan terpupuk dari sekian tahun lamanya (ngarang bebas). bukan dari 'kesempatan' atau aji mumpung. mungkin karena aku belum dewasa, masih menganggap hina hubungan suami istri. maksudku, aku baru setengah mencerna, apakah bisa dari hubungan suami istri, kita bisa menilai harga hubungan pasangan tersebut secara keseluruhan?
intinya, ini film yang cukup bermutu, sebab aku merasa mendapat pelajaran dari film ini. jangan mau menikah dengan pria yang belum siap menikah. jangan percaya pada sahabat kita akan menjaga perasaanya terhadap kekasih kita, karena ternyata hubungan pria dan wanita sungguh minim logika. menikah itu harus kuat hati, karena merupakan stasiun transit menuju dunia yang berbeda.
bukan seleraku.
berkelas, tapi bukan kelasku (atau belum ya?). aku masih kelas anak-anak.
tapi aku tetap menggemari wanita-wanita dewasa yang berkesan tajam dan kokoh seperti Monica Belluci, Sophia Vergara, atau Penelope Cruz. Wanita memang racun sekalugus penawar dunia. mahakarya terindah.
belakangan aku baru baca di internet, ternyata prosa ini mengadaptasi kisah Midsummer Night's Dream oleh Will Shakespeare.







