Minggu, 29 Januari 2012

picisan atau klasik?



maksud picisan disini ialah prosa/karya yang nilainya hanya setara picis artinya murah sekali. sedang klasik yang saya maksud adalah kebalikan dari picisan yakni prosa yang nilainya kelas 1 alias paling unggul.




Kemarin dulu aku berangkat ke Rumah Film, meminjami film-film hiburan seperti biasa. Tiba-tiba tergerak untuk menonton film yang menimbulkan sendatan dan isakan, aneh, biasanya tidak. mungkin karena kehidupan dramaku sedang surut dan ombak sedang tenang (padahal air tenang tanda tak dalam, bahaya juga). mungkin sebenarnya ada arus deras jauh dibawah permukaan air tenang ini. yah, whaterver will be will be. lanjut.
yak mas rental menanyakan, udah nonton Juliet's letter? aku bilang. uh-oh, jangan yang itu mas.. yang romantis nyesek. dia menyahut, kalau 500 days of summer? yak yang semacam itu boleh. dia sambung lagi, kalo gitu ini aja mba,L'Appartment, film prancis. yang main Monica Belluci. oke.
aku pinjam, aku bayar, pulang lah aku.
tidak langsung kutonton, tapi ahirnya kusetel juga.
Dari awal penceritaan memang sudah langsung rumit. hahaha. dan makin banyak kejutan-kejutan nyesek. hanya saja, anehnya, air mata ini tidak tumpah, hidung ini bernafas lancar saja tanpa tertahan.
aku jadi berpikir, ini sebenanrnya film apaan? murah atau mahal? setelah selesai dan muncul credits pun aku termangu biasa saja. Ini film yang rumit, sama rumitnya dengan film Dot the i, bergairah dan nggak ketebak, sama sejenis. alur penceritaanya pun spontan dan pengenalan tokoh sangat minimalis. kalau boleh saya mengistilahkan, film kurang ajar. sama seperti pacar kurang ajar. selalu seru, dunia hanya milik berdua, sampai akhirnya kita tahu dia kurang ajar. sekalipun sudah tau, tetap saja menjalani hubungan sampai api diantaranya padam sendiri. (penulis mengarang bebas kata2 barusan).
setelah berpikir, kira-kira kesimpulanya:
1. aku terlanjur suka pada Monica Belluci, sehingga kalau jalan hidupnya dalam film tidak sesuai seleraku, aku merasa kecewa. yak, saya tidak objektif dalam menonton ini.
2. Aku menonton di rumah, banyak orang berlalu lalang mondar mandir. bikin ngga konsen. apalagi ini film prancis, tau lah.. sering bikin salah tingkah yang nonton. yak, saya butuh lebih privasi untuk menghayati sesuatu yang tabu.
3. tabu. film ini mengangkat masalah yang tidak biasa saya, sebagai manusia setengan wanita setengah anak-anak, jumpai dalam kehidupan sosial sekitar. mungkin ini dikarenakan kelangkaan hati nurani dalam dialognya. atau dikarenakan nuraniku masih berdinding tebal menghadapi yang tabu. aku masih belum melihat kebenaran. memang salah paham itu romantis, tapi, kebenaran itu justru harga suatu keindahan.
4. Kisah cinta yang klasik menurut pedomanku ialah yang tengah bertahan dan terpupuk dari sekian tahun lamanya (ngarang bebas). bukan dari 'kesempatan' atau aji mumpung. mungkin karena aku belum dewasa, masih menganggap hina hubungan suami istri. maksudku, aku baru setengah mencerna, apakah bisa dari hubungan suami istri, kita bisa menilai harga hubungan pasangan tersebut secara keseluruhan?

intinya, ini film yang cukup bermutu, sebab aku merasa mendapat pelajaran dari film ini. jangan mau menikah dengan pria yang belum siap menikah. jangan percaya pada sahabat kita akan menjaga perasaanya terhadap kekasih kita, karena ternyata hubungan pria dan wanita sungguh minim logika. menikah itu harus kuat hati, karena merupakan stasiun transit menuju dunia yang berbeda.
bukan seleraku.
berkelas, tapi bukan kelasku (atau belum ya?). aku masih kelas anak-anak.
tapi aku tetap menggemari wanita-wanita dewasa yang berkesan tajam dan kokoh seperti Monica Belluci, Sophia Vergara, atau Penelope Cruz. Wanita memang racun sekalugus penawar dunia. mahakarya terindah.

belakangan aku baru baca di internet, ternyata prosa ini mengadaptasi kisah Midsummer Night's Dream oleh Will Shakespeare.

Rabu, 25 Januari 2012

started nothing



(tulisan masih acak acakan, tanpa edit)

aku suka saat aku teriak pada Sofia; 'we started nothing, honey!'
oke, karena teriakan memekakan itu ahirnya terbitlah tulisan ini. sehingga liburan super santaiku tidak habis percuma.
menonton adalah ruang gerak tanpa batas untuku kabur dari kenyataan. luas, lapang, bebas. banyak film kutonton, tapi sampai kini baru 2 yang terpatri dihatiku. mungkin karena topiknya wanita atau/dan anak-anak. mungkin karena aku sampai meneteskan air mata. mungkin hanya film dengan latar wanita dan anak-anak yang membuatku terharu biru. mungkin karena aku ini wanita dan anak anak sekaligus.
cukup.
yak dan setiap kisah, baik film, lukisan, foto, lirik, puisi, cerpen, essay, (intinya buah karya-yg kusebutkan bukan semua, tapi yang sedikit kumengerti tenangnya) memang baik kita pahami berdasarkan sudut penulis (pencipta). apa yang melatarbelakangi ia membuahkan karyanya. Namun, setelah buah itu lahir dan terpublikasi, jangan salahkan pembaca telah melakukan intepretasi sendirimasing-masing yang tentunya berbeda2 tergantung sudut pandang pembaca. setelah terbit, kisah bukan lagi milik pencipta, namun kami para pembaca.
cukup soph.
oh. aku merasa gelisah menulis ini mungkin karena aku terpikir ulang terus lirik lagu yang didendangkan she&him; 'its hard to be ignored, when I look at you, you look so bored...teong teng toet... ma baby ma darling, i just thingking of leaving.' dsb dll.
oke. aku akan start something.

The Help

Aku jatuh hati pada film ini karena pemeran utama Emma Stone, memiliki karakter yang sangat oke. mengingat di easy A, dia menjadi wanita muda yang pandai, kritis, humoris, santai, baik, dan juga teguh dan kuat hati. (btw aku masih nggak ngerti kenapa judulnya easy A). kurang lebih Emma memiliki karakter demikian juga di The Help. hanya pembawaanya lebih serius. mungkin ini karena latar budaya tahun 60-an.
Film ini terbilag ringan dengan topik yang sebenarnya setara dengan To kill a Mocking Bird atau Hotel Rwanda atau Film-film kisah Nelson Mandela lain yang mengangkat Politik Apartheid. Keseluruhan kisah ini seolah diceritakan dari sudut pandang wanita. Namun aku masih merasa ada yang 'kasar' dari film ini, dari humor dan cara pemaparan yang jenaka picisan. Dan terang saja ternyata directornya adalah pria, Tate Tylor.
banyak adegan menyentuh. diantaranya yang kuingat ialah saat Emma dicampakkan oleh kekasihnya setelah ia menerbitkan buku yang frontal dan berani menyuarakan apartheid dari sudut pandang nanny. padahal sebelumnya sang kekasih ini mengatakan : 'write what you believe.' sungguh tipe pria yang sebaiknya dihindari--> esuk dele sore tempe.
Selain itu ada adegan saat ibunda Emma yang tadinya oportunis berbalik membela anaknya dan berbangga karna putrinya itu membawa kembali 'courage' ke dalam keluarga.
dari film ini aku berkesimpulan bahwa betapa penulis itu butuh dukungan dari pembacanya. penulis itu membuahkan sesuatu kepada publik, karena kalau menulis hanya untuk diri sendiri sama saja mengeluh.
Pemikiran yang disuarakan artinya kebaikan, bila diyakini itu adalah kejujuran dan kewajaran yang seharusnya.
itu menurutku saja sih. kira-kira demikian.

A Perfect World
Clint Eastwood, mendengar nama itu aku memikirkan adegan sepi dialog dan sarat bahasa tubuh dan kerlingan mata penuh makna. Tapi ternyata film ini jauh lebih renyah daripada film-film beliau yang pernah kutonton. Latar belakang kota kecil di bagia Texas, seperti biasa, namun tanpa kuda dan padang praire.
Hal yang paling kusukai dari film ini ialah pilihan dialog yang digunakan untuk membangun chemistry antara penjahat buron dengan anak kecil sandranya. sudah sering kita lihat kisah antara dua orang asing yang akhirnya menjadi partner, akibat terlibat satu kasus. atau sudah sering juga kita melihat kisah orang dewasa yang bisa berbahasa anak-anak sehingga bisa menjadi partner mereka. Di film ini, kisah orang dewasa yang berhasil memenangkan hati anak-anak digarap rapih dan jujur apa adanya. karakter si bandit tetap kuat, dan karakter si anak juga demikian. Bila dibandingkan dengan Roberto benigni di film Life is Beautiful dimana ia ikut menjadi anak-anak, saat berdialog dengan anaknya. film ini lebih condong ke Old Man and Sea dimana pria tua memberi kisah-kisahnya pada si anak nelayan, dengan caranya sendiri, dan menjadi dirinya sendiri.
Film Clint Easwood seringkali langka adegan sumbang, namun kali ini justru adegan Sherif texas ranger yang ia perankan yang justru kurasa sumbang. seolah hanya jadi kameyo saja.
Aku senang melihat cara Kevin Costner (sebagai Butch si bandit) bercakap kepada Phillips, si bocah. Betapa ia mendengarkan dan menganggap si bocah sebagai rekan setaranya, bukan sekedar anak-anak yang biasanya tidak dipercaya untuk dilibatkan. Aku pun senang dengan cara Phillip secara berani turut terlibat meski jauh dekapan ibunya, dan berani 'mengingatkan' Butch yang telah terlalu kelewatan bertindak. Itulah pertemanan, kurasa. adanya kesetaraan, kejujuran; demokrasi.
Film ini membuatku terharu terisak karena tengah mendorong pikiranku, bahwasanya sebenanrnya rasa takut itu diajarkan kepada anak-anak, bukan milik anak-anak. sebenarnya anak-anak itu sejatinya ialah para pemberani. 'Courage'. itulah kesamaan Butcher dan Phillips, yang sehingga merekatkan mereka berdua. berani bertindak yang mereka percaya benar, berani bertindak seperlunya.

Kira-kira begitu.

semoga tulisanku ini membari manfaat pada pembaca.
Alhamdulillah, minimal aku tidak lagi merasa started nothing.

Minggu, 08 Januari 2012

bimbang

Cause change, and lead. Accept change, and survive. Resist change, and die.
Suatu siang ditengah pelayaranku yang biasa, ada yang datang mendekat. didinding perahu kecilku dia menambatkan lenganya. Dia membuka tanganya memperlihatkan buliran buliran hijau, nampak seperti buah. dilemparkanya sebutir padaku. kuperhatikan dengan seksama, ternyata gumpalan daun yang dilinting seperti buah. lembaran demi lembaran kubuka.
"tidak usah dibuka, tidak untuk dibuka" demikian katanya. ahirnya kututup lagi lembaran-lembaran itu seperti semula. Sayuran. dari darat, kurasa. Belum pernah aku menemukan yang seperti ini. setiap hari sepanjang tahun aku hanya makan ikan-ikan laut, rumput laut dan air hujan. aku tidak pernah menginjakkan kaki ke daratan.
ku endus buah daun itu, kukulum. belum pernah kurasakan sebelumnya. kukunyah, kutelan. hum.. segar. seperti segar gerimis di waktu siang kemarau.
darah kentalku berjoget gembira. selama ini aku terlalu banyak mengkonsumsi garan dan protein. mineral yang baru saja masuk ke kerongkonganku memberi angin segar kedalam organ tubuhku.
aku menatapnya, berharap dia memberiku banyak lagi buah daun untuk persediaanku sebelum dia pergi. namun dia malah bersiap memanjat perahuku yang hanya muat satu orang.
"jangan, tetaplah disitu. jangan masuk ke perahuku. namun jangan pula berenang menjauh."ujarku. lalu dia berkata, dia harus kembali ke darat. jika aku ingin buah daun itu lagi, aku harus turun ke darat.
Bagaimana bisa, kaki dan tanganku sudah berselaput, aku tiada akan bisa berjalan didarat seperti orang darat lainya. "engkau bisa belajar" ujarnya.

bimbang.

apa sebenanrnya buah daun yang kumakan tadi? racunkah? penawarkah? mungkin sebaiknya tak usah kumakan, tadinya tubuhku sudah terbiasa dengan metabolisme langka mineral. atau mungkin sebenanrnya usiaku tinggal sejengkal, dan buah daun itu mengejutkan mengingatkan tubuhku bahwa masih ada harapan.
"beri aku waktu hingga matahari terbenam" aku harus menimbang dengan cermat. meninggalkan perahu ini sama saja meninggalkan kaki renangku. bagian dari tubuhku.
"tidak bisa, aku harus pergi sekarang aku pun butuh kembali ke daratan segera" ujarnya. " waktumu hanya sampai aku hampir tak lagi terlihat di cakrawala, aku akan berenang menjauh. Terserah padamu ikut atau tidak"tambahnya. Tanpa menunggu respon dariku, ia berenang menjauh.
Aku termangu. melihat tubuhnya timbuk tenggelam dibentur ombak.
ombak. selama ini aku hanya mengikutimu, bukan melawanmu.
bayangnya kini terlihat samar, ia terus berenang menjauh, tanpa menengok, tanpa berhenti. hingga akhirnya, hilang.
Aku berdiri diatas perahu, memandangi baskom tadah hujanku, payung pantaiku, bangkai ikan yang tadi tidak kuhabiskan, dan tombak pancing tuaku. melambaikan tangan aku pada mereka semua yang menemaniku selama hidup. hatiku bergemuruh, hidungku panas, dan pandanganku kabur karena airmata. " selamat tinggal!" ujarku pada semuanya.

aku menceburkan diri ke laut berenang melawan ombak. aku yakin kaki selaputku bisa menjejak mengayuh lebih kencang dari orang tadi sehingga aku bisa mengejarnya.
Tunggu aku, daratan.. ucapku pada jiwa ini.

Jumat, 06 Januari 2012

balasan


Dear xisara,
aku senang mendapat surat, terima kasih telah menyuratiku.

pemilihan diksi dalam mengungkapkan suatu pesan menjadi penting ketika kesalah pahaman menjadi permasalahan. dulu aku ngira yang namanya salah pahan selalu jadi masalah. tapi belakangan baru aku sadari, salah paham nggak selamanya menjadi masalah, saat kita sudah saling memaklumi. misal antara aku dan ibu-bapakku.
aku belum mengenalmu, aku belum memaklumimu. jadi aku masih mengkritisi setiap pemilihan kata yang kamu gunakan.

lalu, membahas tentang efek dari aku yang 'banyak ngomong/suka diskusi' mengenai 'diriku sendiri/pemikranku' menyebabkan orang-orang percaya dan mengenalku, adalah suatu pandangan baru yang kudapat darimu. aku teringat kata-kata temanku, Riza, saat aku bertanya padanya apakah dia percaya padaku:
' iya lah percaya, orang kamu kalo ngomong semuanya keluar'
kalau kamu berpendapat bahwa hal itu(dipercaya orang) adalah suatu keuntungan, bagiku malah menjadi ironis.karena saat aku bersama orang yang tidak aku percaya tapi dia percaya padaku, aku akan gelisah sedangkan dia akan nyaman. jadinya akan timpang.

idealis.
aku memang idealis, aku ingin semuanya sempurna, seimbang, selaras. sayangnya kehidupan adalah film yang realis. (mana ada film realis, haha).

mengeni kamu grogi. well, aku tahu banget yang namanya grogi. hal itu nampaknya muncul setiap kali lawan bicaraku mengungkapkan pemikiranya dengan percaya diri sedangkan aku tidak dalam kondisi siap berpikir cepat. aku merasa tidak bisa menyanggal lawan bicaraku, dan akhirnya aku diam.
aku selalu kesal tiap kali Riza bilang
" kamu mikirnya jangan lama-lama,kalo aku mikirnya cepet, sof"
tapi itu fakta yang harus kuhadapi, sar (dia jahat banget ya. haha). mungkin itu yang kamu rasakan. grogi karena lawan bicara bercerita dengan penuh percaya diri.
masukan buatku juga sih, agar aku bisa mendengar pendapatmu, maka caraku mengungkapkan harus memikirkan perasaanmu juga.

apa lagi ya.
hum..
oiya, memang kita harus menghilangkan ganjalan hati agar bisa melanjutkan hidup. aku memaklumi kalau ada ganjalan, sebaiknya ungkapkan. kalau jadinya aku yang malah ganti terganjal, nanti juga akan kuungkapkan. haha.
jangan khawatirkan apakah akan mengganggu/menyakitiku, kan di dunia ini ada yg namanya kompromi.

Dan masalah kedewasaan, aku tidak punya ilmu buat merespons. hha.
yasudah sekian dahulu.
sampai jumpa lain kesempatan.
Trimakasih banyak telah mengirimiku surat.

Kamis, 05 Januari 2012

cowardly lion

Tinggalah seekor singa di hutan hujan tropis kawasan khatulistiwa. Singa biasanya gagah berani dan mereka berkawanan di padang sabana yang luas di benua afrika, namun singa yang satu ini berbeda. dia terpisah dari kawananya dan sangat penakut.
ia tinggal di dalam liang
ia tidak jauh lebih dari ia mendapat air dan buah-buahan
ia selalu takut pada malam
ia takut saat memejamkan mata lama-lama
ia takut pada suara burung hantu
ia bahkan takut pada ekornya sendiri
Suatu hari ia mendengar suara nyanyian dari kejauhan. Ternyata ada seorang manusia, manusia kaleng, dan manusia kerami yang datang menyusuri jalan setapak dekat liangnya. Singa ini sungguh ketakutan.
' oh, mereka akan menemukan liangku, aku dalam bahaya'
singa kemudian segera mengeluarkan auman-auman paling keras yang bisa ia teriakkan. Selama ini auman ialah cara paling ampuh yang menjauhkan dia dari bahaya (menurut pikiranya).
sambil mengaum ia mengintip dari balik semak-semak.
melihat rombongan yang ketakutan, singa akhirnya menampakkan dirinya.
'aku akan memakan kalian, mencabik kalian, menghajar kalian sampai babak belur!'
ternyata rombongan itu adalah Dorothy, manusia Kaleng dan manusia Jerami dalam perjalanan menemui penyihir Oz. ketiganya gemetaran tanpa bisa bergerak melihat kedatangan singa yang tiba-tiba.
'Guk!' Toto, si anjing Dorothy tidak takut pada singa dan mencoba untuk melindungi tuanya.
'Guk-guk!'
mendengar salakan si anjing kecil, nyali si singa langsung ciut. singa langsung terduduk menangis meminta ampunan. akhirnya ia mengaku, ia adalah singa penakut yang selalu dikejar rasa khawatir. singa memperlihatkan kantung hitam dibawah matanya memperlihatkan ia sulit tidur karna ia tidak dapat berhenti ketakutan. Ketakutan membuat kita tidak bisa tidur.
Dorothy dan kedua temanya berbalik dari ketakutan menjadi kasihan.
akhirnya mereka menawarkan, bagaimana jika singa ikut bersama mereka untuk meminta sedikit keberanian kepada penyihir Oz.
setelah bercemas, berulang kali berubah pikiran, berulang kali diyakinkan, akhirnya ikutlah si singa dalam rombongan tersebut. jadilah 4 sekawan itu dengan mantap menuju oz.
mereka akan meminta otak untuk manusia jerami, hati untuk manusia kaleng, 'home' untuk Dorothy, dan keberanian untuk singa.

...

lanjutan kisahnya tentu sudah kita ketahui dalam kisah Wizard of Oz yang saya tak perlu saya paparkan disini, karena sebaiknya pembaca menyaksikan sendiri. tentunya yang versi original, sebab tidak ada yang lebih berkelas dari karya klasik.
singa akhirnya dapat menemukan keberanianya sendiri tanpa bantuan jampi-jampi dari penyihir Oz dengan rela mengorbankann dirinya demi teman-temanya.

keberanian adalah sesuatu yang sangat mahal, karna tidak saya miliki. keberanian itu saya duga adalah memikirkan orang lain lebih dari diri saya sendiri. menahan rasa sakit diri sendiri demi kebahagiaan orang lain. kehilangan sesuatu demi kebaikan untuk orang lain.
keberanian itu tidak egois.

saya mengutip dari blog seseorang http://www.duniaesai.com :

Pengarang Amerika, Ernest Hemingway, merumuskan kualitas keberanian sebagai ”kemuliaan di bawah tekanan”.
Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan keberanian sebagai ”mempunyai hati yang mantap dan rasa
percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya”.

Kamis, 08 Desember 2011

memberi



mencoba memahami anda

tulisan yang akan saya buat ini sebenarnya belum tergodog matang, sehingga mungkin akan sulit dipahami bagi pembaca. namun saya merasa harus menyarakan ide dikepala saya, agar beban di otak berkurang satu.

'memberi' menciptakan kebahagiaan tak terjelaskan kepada pihak pemberi maupun penerima.
menurut pandangan saya, ada 2 jenis pemberian dilihat dari niat pemberi. Pertama, memberi sesuatu yang milik kita, sehingga menorehkan kepada objek pemberian/kado sebuah identitas kita. dengan demikian, penerima memiliki sebagian kecil diri pemberi setelah mendapat kado tersebut. pemberi pun merasa bahwa penerima menjadi bagian dari diri kita. Tujuan yang jenis ini ialah membuat diri sendiri senang.
yang kedua, memberi sesuatu sesuai dengan kebutuhan penerima. Hal ini teramat sulit menurut saya, sebab kita harus lebih dulu mengenal, memahami, bahkan menjadi diri penerima untuk mengetahui kebutuhanya. tujuannya adalah membuat penerima senang.
tentu tidak dapat disamakan memberi kue tart atau memberi sedekah, bukan sekedar simbolisasi normatif, melainkan lebih intim dan personal. meskipun seringkali menyebabkan sok tau atau salah paham. sebab sangat sulit (bagi saya) kita mereduksi diri untuk melakukan relativitas terhadap kebutuhan penerima.
memberi itu tidak mudah, seingat saya, saya belum pernah melakukan pemberian jenis ke-2.

lalu, bagaimana jika, sebagai penerima tidak mendapat rasa senang saat pemberi telah berusaha memberikan sesuatu yang diinginkan oleh penerima sendiri? atau tidak lagi merasa senang seperti pemberian pemberian sebelumnya?
apakah karena penerima tidak lagi membutuhkan? sehingga pemberi salah paham?
apakah niatan pemberi sudah melenceng? bukan karena ingin membahagiakan penerima, tapi justru membahagiakan diri sendiri?
apakah penerima mengharapkan lebih sehingga pemberian terasa tidak berharga?
apakah faktor objek pemberian. yang ternyata kurang berkualitas?
entah.
aku merasa jahat telah menulis (memikirkan) hal ini. sebab yang kutulis bukan tentang ku, tapi tentang "kalian", atau "mereka". ini sama sekali bukan urusanku. aku salah terlalu melibatkan diri.

ah. tidak semua hubungan beri-memberi sesulit yang kupaparkan.
Beruntung bagi pasangan pemberi-penerima yang ada dalam situasi dimana yang dibutuhkan penerima adalah hal yang pemberi inginkan untuk menyenangkan dirinya sendiri. sehingga keduanya tidak perlu melibatkan ikhlas, agar mendapatkan kebahagiaan.

hm..beruntungkah? sebab keduanya melewatkan mempelajari ilmu ikhlas.

sekian.

PS: entah mengapa hal-hal semacam ini(sangat pribadi) terus mengisi kepalaku. seandainya aku bisa lebih membuka mata dan telinga, sehingga hal-hal lain yang menyangkut kepentingan orang banyak (sebanyak-banyaknya) dapat kupikirkan dan kuperjuangkan untuk kupikirkan.. sehingga aku bisa berguna telah hidup di bumi.


Sabtu, 26 November 2011

kompromi


"Please don't expect me to always good and kind and loving. There are times when I will be cold and thoughtless and hard to understand."
kira-kira begitulah pesan yang kutangkap dari pemaparannya malam itu. sesuatu yang membuatku gentar. sebab aku merasakan hawa-hawa dia akan pergi jauh dan lama, bila aku tidak mampu menghangatkan dan melunakkan hati(?)nya.


Pertentangan kami kurasa adalah karena hal medasar. karena aku perempuan, dan dia bukan. teringat aku dengan 2 film yang sangat berbeda, tapi sebenarnya mirip bagiku. idenya sama-sama berangkat dari membunuh kebosanan. yakni film
dan Lost in Translation http://www.imdb.com/title/tt0335266/.

sebenrnya aku menikmati film Taxi driver, kisah tentang seorang pemuda (Robert de niro) insomnia yang tidak bisa menahan bosan di malam-malamnya, sehingga ia memutuskan untuk menjadi supir taxi. dalam film digambarkan hidup pemuda ini disinggahi oleh kisah-kisah para pelanggan taksinya yang beraneka ragam. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang gadis muda tuna susila yang sedang bertengkar dengan mucikari nya. dan dihari yang berbeda, de Niro kembali jumpa dengan sang gadis yang berujung dengan keputusanya untuk "menyelamatkan" sang gadis dari lingkunganya. kisah semakin seru saat de niro telah memutuskan tujuanya dalam hidup : mengemban misi penyelamatan. dengan adegan yang berkisah persiapan de Niro, film bergulir dengan banyak kekerasan dan berpuncak dengan adegan baku tembak dan endinya De Niro berhasil meyelamatkan sang gadis (kalau tak salah diperankan jodie Foster) physically.
setelah menonton film ini aku menyadari bagaimana pria memandang wanita, dan bagaimana pria memandang dirinya sendiri. Dalam kisah itu aku merasa perempuan dijadikan sebagai objek, yang harus diselamatkan, dibelai dan disayang. Benarkah? sebodoh itukah perempuan sehingga kami tidak dapat menyelamatkan diri?
kita harus melihat ekspresi sang gadis setelah diselamatkan, baru kita bisa tahu jawaban pertanyaan terakhirku.

perempuan bertindak sesuai perasaan, bukan logika. semua orang tahu itu. tapi apakah semua orang faham?

Lost In Translation. mengisahkan scarlett johanson yang kesepian dalam kebosanan saat ia mendampingi suaminya ke Tokyo untuk bekerja. Bosanya mati setelah ia bertemu seorang pria baya yang jugaingin membunuh bosan nya sendiri. sepanjang film diisi dengan kesempatan-kesempatan mereka bersmain bersama menyusuri kota Tokyo tanpa bisa sama sekali berbahasa jepang. Betapa....mendalam, bagiku. meskipun tidak seheboh menyelamatkan seorang gadis, menurutku film ini lebih baik sebab adanya pemahaman antara scarlett dan pria baya dalam menjalani kebersamaan keduanya. aku bahkan ingin menjadikan adegan-adegan dalam film ini menjadi salah satu bagian hidup singkat(atau panjang)ku.
hidup telah terlanjur bergulir, tidak ada niatan untuk berbelok, yang ada hanyalah menambal yang bocor. struktur hidupku sudah terbentuk, tidak mau ada dorongan mengubah.
aku senang scarlett tidak akhirnya kabur bersama Pria baya, walau sepanjang film aku melihat merasa ada sesuatu tumbuh diantara keduanya. Sejujurnya, aku berprasangka akan ada adegan2 yang tidak penting, karna mengingat peran2 scralett johanson di film-filmnya kebanyakan. tapi ternyata film ini tergarap bersih dan rapih.

belakangan baru aku ketahui, ternyata director Lost in translation itu wanita : Sofia Capolla. sedangkan director taxi driver itu seorang pria. ah. begitu ternyata perbedaan perempuan melihat dunia dibanding yang bukan perempuan.

demikian. semoga kita bisa saling mengerti dan mengalah, supaya terwujud perdamaian bersama. Dan tentang prolog yang mendasari sentilan yang berujung tulisan ini, kupikir tidak perlu dibahas disini.