Cause change, and lead. Accept change, and survive. Resist change, and die.
Suatu siang ditengah pelayaranku yang biasa, ada yang datang mendekat. didinding perahu kecilku dia menambatkan lenganya. Dia membuka tanganya memperlihatkan buliran buliran hijau, nampak seperti buah. dilemparkanya sebutir padaku. kuperhatikan dengan seksama, ternyata gumpalan daun yang dilinting seperti buah. lembaran demi lembaran kubuka.
"tidak usah dibuka, tidak untuk dibuka" demikian katanya. ahirnya kututup lagi lembaran-lembaran itu seperti semula. Sayuran. dari darat, kurasa. Belum pernah aku menemukan yang seperti ini. setiap hari sepanjang tahun aku hanya makan ikan-ikan laut, rumput laut dan air hujan. aku tidak pernah menginjakkan kaki ke daratan.
ku endus buah daun itu, kukulum. belum pernah kurasakan sebelumnya. kukunyah, kutelan. hum.. segar. seperti segar gerimis di waktu siang kemarau.
darah kentalku berjoget gembira. selama ini aku terlalu banyak mengkonsumsi garan dan protein. mineral yang baru saja masuk ke kerongkonganku memberi angin segar kedalam organ tubuhku.
aku menatapnya, berharap dia memberiku banyak lagi buah daun untuk persediaanku sebelum dia pergi. namun dia malah bersiap memanjat perahuku yang hanya muat satu orang.
"jangan, tetaplah disitu. jangan masuk ke perahuku. namun jangan pula berenang menjauh."ujarku. lalu dia berkata, dia harus kembali ke darat. jika aku ingin buah daun itu lagi, aku harus turun ke darat.
Bagaimana bisa, kaki dan tanganku sudah berselaput, aku tiada akan bisa berjalan didarat seperti orang darat lainya. "engkau bisa belajar" ujarnya.
bimbang.
apa sebenanrnya buah daun yang kumakan tadi? racunkah? penawarkah? mungkin sebaiknya tak usah kumakan, tadinya tubuhku sudah terbiasa dengan metabolisme langka mineral. atau mungkin sebenanrnya usiaku tinggal sejengkal, dan buah daun itu mengejutkan mengingatkan tubuhku bahwa masih ada harapan.
"beri aku waktu hingga matahari terbenam" aku harus menimbang dengan cermat. meninggalkan perahu ini sama saja meninggalkan kaki renangku. bagian dari tubuhku.
"tidak bisa, aku harus pergi sekarang aku pun butuh kembali ke daratan segera" ujarnya. " waktumu hanya sampai aku hampir tak lagi terlihat di cakrawala, aku akan berenang menjauh. Terserah padamu ikut atau tidak"tambahnya. Tanpa menunggu respon dariku, ia berenang menjauh.
Aku termangu. melihat tubuhnya timbuk tenggelam dibentur ombak.
ombak. selama ini aku hanya mengikutimu, bukan melawanmu.
bayangnya kini terlihat samar, ia terus berenang menjauh, tanpa menengok, tanpa berhenti. hingga akhirnya, hilang.
Aku berdiri diatas perahu, memandangi baskom tadah hujanku, payung pantaiku, bangkai ikan yang tadi tidak kuhabiskan, dan tombak pancing tuaku. melambaikan tangan aku pada mereka semua yang menemaniku selama hidup. hatiku bergemuruh, hidungku panas, dan pandanganku kabur karena airmata. " selamat tinggal!" ujarku pada semuanya.
aku menceburkan diri ke laut berenang melawan ombak. aku yakin kaki selaputku bisa menjejak mengayuh lebih kencang dari orang tadi sehingga aku bisa mengejarnya.
Tunggu aku, daratan.. ucapku pada jiwa ini.

4 komentar:
jadi kamu sudah memutuskan Cop? :D
cop. ini karanganmu ya cop?
aku lama bgt poya gak baca tulisanmu,,tiba2 kamu terdengar seperti orang lain.
dari dulu baca tulisan2mu yg macem gini aku pikir kamu menyadur. tapi ngga ada sumbernya, berarti karangan sendiri.
btw,
dia tidak langka mineral, sama sekali.
garam itu mineral lo :)
lama nggak ketemu aja kamu tak :p
aku makin tua tambah alay gemana getu ._.
alaaaaiii
doesnt sound like u :p
alter ego? :3
Posting Komentar