angin kering berembus menerpa wajahku yang keriput. diatas sebidang batu besar aku duduk sambil memandangi kakiku yang berselaput. sanca kecil bergeliat geliat di pasir tak kuacuhkan. dia bicara tentang sesuatu, namun tak kumengerti maksudnya.
sudah beberapa kali purnama aku lalui di daratan.
daratan.
baru kali pertama aku menapakan jasadku di petak yang stabil. merasakan kerlipan angin kering yang membawa pasir, tanpa wangi air garam. apa yang tersembungi dibalik pasir-pasir ini? aku tak tahu, tak kelihatan.
mengerling mata ku pada oasis di seberang sana. tenda tenda mengepulkan asap menandakan kehidupan. kehidupan. kehidupan yang aneh. manusia daratan memang aneh. mereka berdiam di satu tempat, mengumpulkan dan menyeret hewan hewan. berkumpul bersama, saling bicara padahal hatinya diam. saling tertawa berkelakar, padahal matanya curiga. saling berbisik syahdu, padahal dahinya berkerut kerut marah.
pedih aku merasakan sirip di betisku yang mulai rompal kekeringan. selaput diantara jari kaki, sirip di betis dan lengan, insang di leherku, membuat manusia manusia darat menjauhiku. hingga suatu hari aku diberi oleh si perenang yang dulu kukejar hingga memperkenalkanku akan daratan. ia beriku sepotong pakaian dan secarik selendang, katanya agar manusia yang lain dapat menerima kehadiranku.
sirip tetaplah sirip, insang tetaplah insang. aku sesekali butuh bernafas dalam air. satu purnama pertama aku merasa bergelora berenang renang di danau oasis. banyak ikan yang ramah tamah, ganggang yang renyah dan kepiting sungai yang serba lamban. namun lambat laun badanku menggembung hampir hampir aku mau meletus. yah. ikan laut tetaplah ikan laut. aku terlalu minum banyak banyak, tanpa bisa kukendalikan.
aku mulai berhenti berenang.
sempat aku berpikir untuk mencari kapak untuk mengiris siripku, mencari batu runcing untuk menguliti sisikku. tapi aku terlalu takut.
berhenti.
aku diam tak bergerak. bulan dan matahari senantiasa silih berganti. aku tetap pada batu yang sama. tempo sebelumnya aku pernah bargabung bersama manusia manusia tenda didekat oasis. aku memparhatikan gerak gerik mereka, mencoba mengikuti. namun giliran aku bicara, tak satu pun yang mengerti. termasuk si perenang. aku heran, aku telah berusaha mempelajari mereka, mengapa tidak berbalik mereka mempelajariku? hingga lelah insangku berbusa, akhirnya kuputuskan menyendiri.
memandangi jari jemariku, aku menghitung bulan. teringat bulan aku memandang langit. senja telah lewat. titik titik bintang membuatku rindu akan perahu kayuku yang entah dimana kini. tumitku tiba tiba terasa gatal, kuperhatikan kakiku, ternyata sanca kecil sedang mematuk matuk menggigiti ujung celanaku. sanca kecil, bahasanya tak kumengerti. berpikirlah aku.
manusia tenda pun tak mengerti bahasanya, memiliki taring dan kulit yang bersisik. namun ia dapet terus bertahan di padang gurun ini. mungkinkah karena ia disini ada ibu sanca dan ayah sanca? mungkin itu alasanya.
pipa celanaku kini telah koyak karena patukan sanca kecil. mungkinkah sanca ini tau akan kepedihanku menahan perih? kutatap matanya. dua titik kecil hitam penuh dengan keyakinan. tersadar aku dari lamunan tanpa keasaan. akhirnya ku putuskan untuk berkelana.alih alih kembali ke lautan, merakit ulang perahu dan payung tadah hujan, lebih baik aku menjelajahi daratan. aku akan mencari makhluk hidup yang dapat memahami tutur perkataanku dan maksud hatiku. yang tidak gerah melihat insang dan sisikku.
selamat tinggal oasis. terima kasih telah menjadi pintu gerbang atas penjelajahanku akan daratan.
