
mencoba memahami anda
tulisan yang akan saya buat ini sebenarnya belum tergodog matang, sehingga mungkin akan sulit dipahami bagi pembaca. namun saya merasa harus menyarakan ide dikepala saya, agar beban di otak berkurang satu.
'memberi' menciptakan kebahagiaan tak terjelaskan kepada pihak pemberi maupun penerima.
menurut pandangan saya, ada 2 jenis pemberian dilihat dari niat pemberi. Pertama, memberi sesuatu yang milik kita, sehingga menorehkan kepada objek pemberian/kado sebuah identitas kita. dengan demikian, penerima memiliki sebagian kecil diri pemberi setelah mendapat kado tersebut. pemberi pun merasa bahwa penerima menjadi bagian dari diri kita. Tujuan yang jenis ini ialah membuat diri sendiri senang.
yang kedua, memberi sesuatu sesuai dengan kebutuhan penerima. Hal ini teramat sulit menurut saya, sebab kita harus lebih dulu mengenal, memahami, bahkan menjadi diri penerima untuk mengetahui kebutuhanya. tujuannya adalah membuat penerima senang.
tentu tidak dapat disamakan memberi kue tart atau memberi sedekah, bukan sekedar simbolisasi normatif, melainkan lebih intim dan personal. meskipun seringkali menyebabkan sok tau atau salah paham. sebab sangat sulit (bagi saya) kita mereduksi diri untuk melakukan relativitas terhadap kebutuhan penerima.
memberi itu tidak mudah, seingat saya, saya belum pernah melakukan pemberian jenis ke-2.
lalu, bagaimana jika, sebagai penerima tidak mendapat rasa senang saat pemberi telah berusaha memberikan sesuatu yang diinginkan oleh penerima sendiri? atau tidak lagi merasa senang seperti pemberian pemberian sebelumnya?
apakah karena penerima tidak lagi membutuhkan? sehingga pemberi salah paham?
apakah niatan pemberi sudah melenceng? bukan karena ingin membahagiakan penerima, tapi justru membahagiakan diri sendiri?
apakah penerima mengharapkan lebih sehingga pemberian terasa tidak berharga?
apakah faktor objek pemberian. yang ternyata kurang berkualitas?
entah.
aku merasa jahat telah menulis (memikirkan) hal ini. sebab yang kutulis bukan tentang ku, tapi tentang "kalian", atau "mereka". ini sama sekali bukan urusanku. aku salah terlalu melibatkan diri.
ah. tidak semua hubungan beri-memberi sesulit yang kupaparkan.
Beruntung bagi pasangan pemberi-penerima yang ada dalam situasi dimana yang dibutuhkan penerima adalah hal yang pemberi inginkan untuk menyenangkan dirinya sendiri. sehingga keduanya tidak perlu melibatkan ikhlas, agar mendapatkan kebahagiaan.
hm..beruntungkah? sebab keduanya melewatkan mempelajari ilmu ikhlas.
sekian.

PS: entah mengapa hal-hal semacam ini(sangat pribadi) terus mengisi kepalaku. seandainya aku bisa lebih membuka mata dan telinga, sehingga hal-hal lain yang menyangkut kepentingan orang banyak (sebanyak-banyaknya) dapat kupikirkan dan kuperjuangkan untuk kupikirkan.. sehingga aku bisa berguna telah hidup di bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar