Rabu, 28 April 2010

labilnya anak abg






(adzan ashar sudah berkumandang perempat jam yang lalu. tapi saya mohon ampun, menunda panggilan agung ini,sebab ada maksud hati yang ingin saya sampaikan setelah melihat file foto dokumen dari kamera saya.)

beberapa hari yang lalu, saat ada hari air, saya lupa tepatnya kapan, tetangga saya (departemen silpil dan lingkungan) mengadakan lomba lukis sd kelas 5-6 dan lomba mewarnai tk. dan sungguh senang saya terundang dengan rendah hati sebagai salah satu juri lomba lukis. terimakasih, kawan atas kehormatan ini.
dalam pelaksanaan lomba tersebut, saya mendapat beberapa pemikiran menyentil setelah mengamati perilaku anak-anak sd. memperhatikan anak-anak sd menggambar.
gambar atau lukisan adalah suatu bentuk komunikasi dari ide atau gagasan yang kita pikirkan, kemudian diceritakan secara 2d.
dari pengamatan saya, ternyata sebagian besar anak-anak itu lukisa-gambar yang mereka buat selalu sama dengan yang disampingnya.

saya sedih, bahwa pemahaman atas gambar sebagai suatu ide tidak didapat oleh anak-anak sd tsb. mereka hanya tau, yang penting keliatanya bagus aja, warna-warnanya banyak, rapi, dsb.

betapa ide adalah sesuatu yang tidak dibiasakan untuk dikemukakan oleh anak kecil merupakan budaya kita di sd. sehingga saat dewasa ini ide menjadi sangat sulit ditemui. salah siapa itu?
salah budaya? salah kebiasaan? atau salah sistem?
sedihnya hati saya ketika anak yang memiliki kebebasan imajinasi yang sangat jujur justru terbendung pemikiranya hanya karena takut salah. takut keluar dari sistim yang ada.karena aturanya di dunia pendidikan kala saya sd-sma, bagi murid yang melakukan penyimpangan dari sistem, dia dicap nakal, atau gagal. karena itu jadilah ia melihat, mencopy milik temanya, karena bingung, takut salah akan sesuatu yang akan ia ceritakan lewat gambar.
"takut kalau yang dipikirkan itu salah"
"cari teman biar kalo salah bareng-bareng"
sedihnya.

dalam pengajaran di sekolah yang saya tempuh dari sd hingga sma, selalu yang dilihat dan diproses oleh tim guru atau kalau dalam tim lomba lukis adalah hasil akhir.
padahal seharusnya seorang juri berjalan-jalan berkeliling memperhatikan setiap peserta, sehingga dapat ditemukan mana yang berawal dari ide sendiri, mana yang memulai dari ide temanya, dan mana yang diarahkan oleh walinya.

sehingga yang dinilai adalah proses keseluruhan hingga menjadi gambar.

okelah kita memang menilai kerapihan, ketelatenan, keterpaduan gradasi danlain-lain, tapi, HEY, apa kabar ide?gagasan? halooooo apa sih yang kita cari wahai dunia pendidikan?

saya ingat pengalaman di kelas 4 sd, ada seorang bule Australia datang ke sd muh sapen sebagai native speaker. saya ingat disaat dia menulis dipapan tulis tentang biodata perkenalanya, tulisanya jauh lebih buruk dari tulisan saya. contoh lain kemudian tentang profesor sebagai doseen salah satu matakuliah saya pun tulisanya cakar ayam.
kalau demikian faktanya, apa sih gunanya kita menulis abjad dari a-z sebanyak satu halaman cacah gori ukuran 1.5x1.5cm??!! apa gunanya kerapihan dan segala yang indah-indah untuk urusan kulit yang sangat bersifat teknis DITEKANKAN dan DIUTAMAKAN di dalam pendidikan dasar kita?
apakah ini merupakan sisa-sisa kolonial yang menuntut kita hanya menjadi pesuruh? pencontoh? tukang?
disaat kaum voc itu menyuruh kita membangun ini itu, gedung yang bentuknya sama dengan arsitektur imperial, yang sebenarnya tidak cocok dengan iklim lokal,
kala itu kita cuma bisa diseleksi oleh mereka, lewat ketrampilan pertukangan. nggak ada itu orang pribumi yang memikirkan suatu ide rancangan bangunan dimasa kolonial kala itu. saat itu kita di didik untuk menjadi tukang yang jagoan, tapi dilarang jadi pemikir yang radikal.
mungkin bayang-bayang itulah yang menjadi semburat kepincangan sistem pendidikan dasar kita.


itu mungkin yang menyebabkan anak abg labil, gemar mencontoh trend yang sedang ada,takut untuk terlihat aneh karena memiliki ide yg berbeda.. lah wong dari kecil aja udah labil.

baiklah teman2, menjadi tugas generasi mendatanglah untuk mengubah sistim pendidikan yang keliru. keliru = menomorduakan pemikiran atau ide yang ingin diungkapkan. malah mendewakan yang rapi teratur namun sesuai dengan dikte dari pengajar. samakah pendapat anda dengan pemikiran ini?

tetap sehat dan waspada!