"Please don't expect me to always good and kind and loving. There are times when I will be cold and thoughtless and hard to understand."kira-kira begitulah pesan yang kutangkap dari pemaparannya malam itu. sesuatu yang membuatku gentar. sebab aku merasakan hawa-hawa dia akan pergi jauh dan lama, bila aku tidak mampu menghangatkan dan melunakkan hati(?)nya.
Pertentangan kami kurasa adalah karena hal medasar. karena aku perempuan, dan dia bukan. teringat aku dengan 2 film yang sangat berbeda, tapi sebenarnya mirip bagiku. idenya sama-sama berangkat dari membunuh kebosanan. yakni film
Taxi driver http://www.imdb.com/title/tt0075314/
dan Lost in Translation http://www.imdb.com/title/tt0335266/.


sebenrnya aku menikmati film Taxi driver, kisah tentang seorang pemuda (Robert de niro) insomnia yang tidak bisa menahan bosan di malam-malamnya, sehingga ia memutuskan untuk menjadi supir taxi. dalam film digambarkan hidup pemuda ini disinggahi oleh kisah-kisah para pelanggan taksinya yang beraneka ragam. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang gadis muda tuna susila yang sedang bertengkar dengan mucikari nya. dan dihari yang berbeda, de Niro kembali jumpa dengan sang gadis yang berujung dengan keputusanya untuk "menyelamatkan" sang gadis dari lingkunganya. kisah semakin seru saat de niro telah memutuskan tujuanya dalam hidup : mengemban misi penyelamatan. dengan adegan yang berkisah persiapan de Niro, film bergulir dengan banyak kekerasan dan berpuncak dengan adegan baku tembak dan endinya De Niro berhasil meyelamatkan sang gadis (kalau tak salah diperankan jodie Foster) physically.
setelah menonton film ini aku menyadari bagaimana pria memandang wanita, dan bagaimana pria memandang dirinya sendiri. Dalam kisah itu aku merasa perempuan dijadikan sebagai objek, yang harus diselamatkan, dibelai dan disayang. Benarkah? sebodoh itukah perempuan sehingga kami tidak dapat menyelamatkan diri?
kita harus melihat ekspresi sang gadis setelah diselamatkan, baru kita bisa tahu jawaban pertanyaan terakhirku.
perempuan bertindak sesuai perasaan, bukan logika. semua orang tahu itu. tapi apakah semua orang faham?
Lost In Translation. mengisahkan scarlett johanson yang kesepian dalam kebosanan saat ia mendampingi suaminya ke Tokyo untuk bekerja. Bosanya mati setelah ia bertemu seorang pria baya yang jugaingin membunuh bosan nya sendiri. sepanjang film diisi dengan kesempatan-kesempatan mereka bersmain bersama menyusuri kota Tokyo tanpa bisa sama sekali berbahasa jepang. Betapa....mendalam, bagiku. meskipun tidak seheboh menyelamatkan seorang gadis, menurutku film ini lebih baik sebab adanya pemahaman antara scarlett dan pria baya dalam menjalani kebersamaan keduanya. aku bahkan ingin menjadikan adegan-adegan dalam film ini menjadi salah satu bagian hidup singkat(atau panjang)ku.
hidup telah terlanjur bergulir, tidak ada niatan untuk berbelok, yang ada hanyalah menambal yang bocor. struktur hidupku sudah terbentuk, tidak mau ada dorongan mengubah.
aku senang scarlett tidak akhirnya kabur bersama Pria baya, walau sepanjang film aku melihat merasa ada sesuatu tumbuh diantara keduanya. Sejujurnya, aku berprasangka akan ada adegan2 yang tidak penting, karna mengingat peran2 scralett johanson di film-filmnya kebanyakan. tapi ternyata film ini tergarap bersih dan rapih.
belakangan baru aku ketahui, ternyata director Lost in translation itu wanita : Sofia Capolla. sedangkan director taxi driver itu seorang pria. ah. begitu ternyata perbedaan perempuan melihat dunia dibanding yang bukan perempuan.
demikian. semoga kita bisa saling mengerti dan mengalah, supaya terwujud perdamaian bersama. Dan tentang prolog yang mendasari sentilan yang berujung tulisan ini, kupikir tidak perlu dibahas disini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar