Tampilkan postingan dengan label mengenal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengenal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juni 2012

melanjutkan perjalanan

angin kering berembus menerpa wajahku yang keriput. diatas sebidang batu besar aku duduk sambil memandangi kakiku yang berselaput. sanca kecil bergeliat geliat di pasir tak kuacuhkan. dia bicara tentang sesuatu, namun tak kumengerti maksudnya.
sudah beberapa kali purnama aku lalui di daratan.
daratan.
baru kali pertama aku menapakan jasadku di petak yang stabil. merasakan kerlipan angin kering yang membawa pasir, tanpa wangi air garam. apa yang tersembungi dibalik pasir-pasir ini? aku tak tahu, tak kelihatan.
mengerling mata ku pada oasis di seberang sana. tenda tenda mengepulkan asap menandakan kehidupan. kehidupan. kehidupan yang aneh. manusia daratan memang aneh. mereka berdiam di satu tempat, mengumpulkan dan menyeret hewan hewan. berkumpul bersama, saling bicara padahal hatinya diam. saling tertawa berkelakar, padahal matanya curiga. saling berbisik syahdu, padahal dahinya berkerut kerut marah.

pedih aku merasakan sirip di betisku yang mulai rompal kekeringan. selaput diantara jari kaki, sirip di betis dan lengan, insang di leherku, membuat manusia manusia darat menjauhiku. hingga suatu hari aku diberi oleh si perenang yang dulu kukejar hingga memperkenalkanku akan daratan. ia beriku sepotong pakaian dan secarik selendang, katanya agar manusia yang lain dapat menerima kehadiranku.
sirip tetaplah sirip, insang tetaplah insang. aku sesekali butuh bernafas dalam air. satu purnama pertama aku merasa bergelora berenang renang di danau oasis. banyak ikan yang ramah tamah, ganggang yang renyah dan kepiting sungai yang serba lamban. namun lambat laun badanku menggembung hampir hampir aku mau meletus. yah. ikan laut tetaplah ikan laut. aku terlalu minum banyak banyak, tanpa bisa kukendalikan.
aku mulai berhenti berenang.
sempat aku berpikir untuk mencari kapak untuk mengiris siripku, mencari batu runcing untuk menguliti sisikku. tapi aku terlalu takut.

berhenti.
aku diam tak bergerak. bulan dan matahari senantiasa silih berganti. aku tetap pada batu yang sama. tempo sebelumnya aku pernah bargabung bersama manusia manusia tenda didekat oasis. aku memparhatikan gerak gerik mereka, mencoba mengikuti. namun giliran aku bicara, tak satu pun yang mengerti. termasuk si perenang.  aku heran, aku telah berusaha mempelajari mereka, mengapa tidak berbalik mereka mempelajariku? hingga lelah insangku berbusa, akhirnya kuputuskan menyendiri.

memandangi jari jemariku, aku menghitung bulan. teringat bulan aku memandang langit. senja telah lewat. titik titik bintang membuatku rindu akan perahu kayuku yang entah dimana kini. tumitku tiba tiba terasa gatal, kuperhatikan kakiku, ternyata sanca kecil sedang mematuk matuk menggigiti ujung celanaku. sanca kecil, bahasanya tak kumengerti. berpikirlah aku.
manusia tenda pun tak mengerti bahasanya, memiliki taring dan kulit yang bersisik. namun ia dapet terus bertahan di padang gurun ini. mungkinkah karena ia disini ada ibu sanca dan ayah sanca? mungkin itu alasanya.

pipa celanaku kini telah koyak karena patukan sanca kecil. mungkinkah sanca ini tau akan kepedihanku menahan perih? kutatap matanya. dua titik kecil hitam penuh dengan keyakinan. tersadar aku dari lamunan tanpa keasaan. akhirnya ku putuskan untuk berkelana.alih alih kembali ke lautan, merakit ulang perahu dan payung tadah hujan, lebih baik aku menjelajahi daratan. aku akan mencari makhluk hidup yang dapat memahami tutur perkataanku dan maksud hatiku. yang tidak gerah melihat insang dan sisikku.
selamat tinggal oasis. terima kasih telah menjadi pintu gerbang atas penjelajahanku akan daratan.


Kamis, 08 Desember 2011

memberi



mencoba memahami anda

tulisan yang akan saya buat ini sebenarnya belum tergodog matang, sehingga mungkin akan sulit dipahami bagi pembaca. namun saya merasa harus menyarakan ide dikepala saya, agar beban di otak berkurang satu.

'memberi' menciptakan kebahagiaan tak terjelaskan kepada pihak pemberi maupun penerima.
menurut pandangan saya, ada 2 jenis pemberian dilihat dari niat pemberi. Pertama, memberi sesuatu yang milik kita, sehingga menorehkan kepada objek pemberian/kado sebuah identitas kita. dengan demikian, penerima memiliki sebagian kecil diri pemberi setelah mendapat kado tersebut. pemberi pun merasa bahwa penerima menjadi bagian dari diri kita. Tujuan yang jenis ini ialah membuat diri sendiri senang.
yang kedua, memberi sesuatu sesuai dengan kebutuhan penerima. Hal ini teramat sulit menurut saya, sebab kita harus lebih dulu mengenal, memahami, bahkan menjadi diri penerima untuk mengetahui kebutuhanya. tujuannya adalah membuat penerima senang.
tentu tidak dapat disamakan memberi kue tart atau memberi sedekah, bukan sekedar simbolisasi normatif, melainkan lebih intim dan personal. meskipun seringkali menyebabkan sok tau atau salah paham. sebab sangat sulit (bagi saya) kita mereduksi diri untuk melakukan relativitas terhadap kebutuhan penerima.
memberi itu tidak mudah, seingat saya, saya belum pernah melakukan pemberian jenis ke-2.

lalu, bagaimana jika, sebagai penerima tidak mendapat rasa senang saat pemberi telah berusaha memberikan sesuatu yang diinginkan oleh penerima sendiri? atau tidak lagi merasa senang seperti pemberian pemberian sebelumnya?
apakah karena penerima tidak lagi membutuhkan? sehingga pemberi salah paham?
apakah niatan pemberi sudah melenceng? bukan karena ingin membahagiakan penerima, tapi justru membahagiakan diri sendiri?
apakah penerima mengharapkan lebih sehingga pemberian terasa tidak berharga?
apakah faktor objek pemberian. yang ternyata kurang berkualitas?
entah.
aku merasa jahat telah menulis (memikirkan) hal ini. sebab yang kutulis bukan tentang ku, tapi tentang "kalian", atau "mereka". ini sama sekali bukan urusanku. aku salah terlalu melibatkan diri.

ah. tidak semua hubungan beri-memberi sesulit yang kupaparkan.
Beruntung bagi pasangan pemberi-penerima yang ada dalam situasi dimana yang dibutuhkan penerima adalah hal yang pemberi inginkan untuk menyenangkan dirinya sendiri. sehingga keduanya tidak perlu melibatkan ikhlas, agar mendapatkan kebahagiaan.

hm..beruntungkah? sebab keduanya melewatkan mempelajari ilmu ikhlas.

sekian.

PS: entah mengapa hal-hal semacam ini(sangat pribadi) terus mengisi kepalaku. seandainya aku bisa lebih membuka mata dan telinga, sehingga hal-hal lain yang menyangkut kepentingan orang banyak (sebanyak-banyaknya) dapat kupikirkan dan kuperjuangkan untuk kupikirkan.. sehingga aku bisa berguna telah hidup di bumi.


Sabtu, 26 November 2011

kompromi


"Please don't expect me to always good and kind and loving. There are times when I will be cold and thoughtless and hard to understand."
kira-kira begitulah pesan yang kutangkap dari pemaparannya malam itu. sesuatu yang membuatku gentar. sebab aku merasakan hawa-hawa dia akan pergi jauh dan lama, bila aku tidak mampu menghangatkan dan melunakkan hati(?)nya.


Pertentangan kami kurasa adalah karena hal medasar. karena aku perempuan, dan dia bukan. teringat aku dengan 2 film yang sangat berbeda, tapi sebenarnya mirip bagiku. idenya sama-sama berangkat dari membunuh kebosanan. yakni film
dan Lost in Translation http://www.imdb.com/title/tt0335266/.

sebenrnya aku menikmati film Taxi driver, kisah tentang seorang pemuda (Robert de niro) insomnia yang tidak bisa menahan bosan di malam-malamnya, sehingga ia memutuskan untuk menjadi supir taxi. dalam film digambarkan hidup pemuda ini disinggahi oleh kisah-kisah para pelanggan taksinya yang beraneka ragam. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang gadis muda tuna susila yang sedang bertengkar dengan mucikari nya. dan dihari yang berbeda, de Niro kembali jumpa dengan sang gadis yang berujung dengan keputusanya untuk "menyelamatkan" sang gadis dari lingkunganya. kisah semakin seru saat de niro telah memutuskan tujuanya dalam hidup : mengemban misi penyelamatan. dengan adegan yang berkisah persiapan de Niro, film bergulir dengan banyak kekerasan dan berpuncak dengan adegan baku tembak dan endinya De Niro berhasil meyelamatkan sang gadis (kalau tak salah diperankan jodie Foster) physically.
setelah menonton film ini aku menyadari bagaimana pria memandang wanita, dan bagaimana pria memandang dirinya sendiri. Dalam kisah itu aku merasa perempuan dijadikan sebagai objek, yang harus diselamatkan, dibelai dan disayang. Benarkah? sebodoh itukah perempuan sehingga kami tidak dapat menyelamatkan diri?
kita harus melihat ekspresi sang gadis setelah diselamatkan, baru kita bisa tahu jawaban pertanyaan terakhirku.

perempuan bertindak sesuai perasaan, bukan logika. semua orang tahu itu. tapi apakah semua orang faham?

Lost In Translation. mengisahkan scarlett johanson yang kesepian dalam kebosanan saat ia mendampingi suaminya ke Tokyo untuk bekerja. Bosanya mati setelah ia bertemu seorang pria baya yang jugaingin membunuh bosan nya sendiri. sepanjang film diisi dengan kesempatan-kesempatan mereka bersmain bersama menyusuri kota Tokyo tanpa bisa sama sekali berbahasa jepang. Betapa....mendalam, bagiku. meskipun tidak seheboh menyelamatkan seorang gadis, menurutku film ini lebih baik sebab adanya pemahaman antara scarlett dan pria baya dalam menjalani kebersamaan keduanya. aku bahkan ingin menjadikan adegan-adegan dalam film ini menjadi salah satu bagian hidup singkat(atau panjang)ku.
hidup telah terlanjur bergulir, tidak ada niatan untuk berbelok, yang ada hanyalah menambal yang bocor. struktur hidupku sudah terbentuk, tidak mau ada dorongan mengubah.
aku senang scarlett tidak akhirnya kabur bersama Pria baya, walau sepanjang film aku melihat merasa ada sesuatu tumbuh diantara keduanya. Sejujurnya, aku berprasangka akan ada adegan2 yang tidak penting, karna mengingat peran2 scralett johanson di film-filmnya kebanyakan. tapi ternyata film ini tergarap bersih dan rapih.

belakangan baru aku ketahui, ternyata director Lost in translation itu wanita : Sofia Capolla. sedangkan director taxi driver itu seorang pria. ah. begitu ternyata perbedaan perempuan melihat dunia dibanding yang bukan perempuan.

demikian. semoga kita bisa saling mengerti dan mengalah, supaya terwujud perdamaian bersama. Dan tentang prolog yang mendasari sentilan yang berujung tulisan ini, kupikir tidak perlu dibahas disini.