(tulisan masih acak acakan, tanpa edit)
aku suka saat aku teriak pada Sofia; 'we started nothing, honey!'
oke, karena teriakan memekakan itu ahirnya terbitlah tulisan ini. sehingga liburan super santaiku tidak habis percuma.
menonton adalah ruang gerak tanpa batas untuku kabur dari kenyataan. luas, lapang, bebas. banyak film kutonton, tapi sampai kini baru 2 yang terpatri dihatiku. mungkin karena topiknya wanita atau/dan anak-anak. mungkin karena aku sampai meneteskan air mata. mungkin hanya film dengan latar wanita dan anak-anak yang membuatku terharu biru. mungkin karena aku ini wanita dan anak anak sekaligus.
cukup.
yak dan setiap kisah, baik film, lukisan, foto, lirik, puisi, cerpen, essay, (intinya buah karya-yg kusebutkan bukan semua, tapi yang sedikit kumengerti tenangnya) memang baik kita pahami berdasarkan sudut penulis (pencipta). apa yang melatarbelakangi ia membuahkan karyanya. Namun, setelah buah itu lahir dan terpublikasi, jangan salahkan pembaca telah melakukan intepretasi sendirimasing-masing yang tentunya berbeda2 tergantung sudut pandang pembaca. setelah terbit, kisah bukan lagi milik pencipta, namun kami para pembaca.
cukup soph.
oh. aku merasa gelisah menulis ini mungkin karena aku terpikir ulang terus lirik lagu yang didendangkan she&him; 'its hard to be ignored, when I look at you, you look so bored...teong teng toet... ma baby ma darling, i just thingking of leaving.' dsb dll.
oke. aku akan start something.
The Help
Aku jatuh hati pada film ini karena pemeran utama Emma Stone, memiliki karakter yang sangat oke. mengingat di easy A, dia menjadi wanita muda yang pandai, kritis, humoris, santai, baik, dan juga teguh dan kuat hati. (btw aku masih nggak ngerti kenapa judulnya easy A). kurang lebih Emma memiliki karakter demikian juga di The Help. hanya pembawaanya lebih serius. mungkin ini karena latar budaya tahun 60-an.
Film ini terbilag ringan dengan topik yang sebenarnya setara dengan To kill a Mocking Bird atau Hotel Rwanda atau Film-film kisah Nelson Mandela lain yang mengangkat Politik Apartheid. Keseluruhan kisah ini seolah diceritakan dari sudut pandang wanita. Namun aku masih merasa ada yang 'kasar' dari film ini, dari humor dan cara pemaparan yang jenaka picisan. Dan terang saja ternyata directornya adalah pria, Tate Tylor.
banyak adegan menyentuh. diantaranya yang kuingat ialah saat Emma dicampakkan oleh kekasihnya setelah ia menerbitkan buku yang frontal dan berani menyuarakan apartheid dari sudut pandang nanny. padahal sebelumnya sang kekasih ini mengatakan : 'write what you believe.' sungguh tipe pria yang sebaiknya dihindari--> esuk dele sore tempe.
Selain itu ada adegan saat ibunda Emma yang tadinya oportunis berbalik membela anaknya dan berbangga karna putrinya itu membawa kembali 'courage' ke dalam keluarga.
dari film ini aku berkesimpulan bahwa betapa penulis itu butuh dukungan dari pembacanya. penulis itu membuahkan sesuatu kepada publik, karena kalau menulis hanya untuk diri sendiri sama saja mengeluh.
Pemikiran yang disuarakan artinya kebaikan, bila diyakini itu adalah kejujuran dan kewajaran yang seharusnya.itu menurutku saja sih. kira-kira demikian.
A Perfect World
Clint Eastwood, mendengar nama itu aku memikirkan adegan sepi dialog dan sarat bahasa tubuh dan kerlingan mata penuh makna. Tapi ternyata film ini jauh lebih renyah daripada film-film beliau yang pernah kutonton. Latar belakang kota kecil di bagia Texas, seperti biasa, namun tanpa kuda dan padang praire.Hal yang paling kusukai dari film ini ialah pilihan dialog yang digunakan untuk membangun chemistry antara penjahat buron dengan anak kecil sandranya. sudah sering kita lihat kisah antara dua orang asing yang akhirnya menjadi partner, akibat terlibat satu kasus. atau sudah sering juga kita melihat kisah orang dewasa yang bisa berbahasa anak-anak sehingga bisa menjadi partner mereka. Di film ini, kisah orang dewasa yang berhasil memenangkan hati anak-anak digarap rapih dan jujur apa adanya. karakter si bandit tetap kuat, dan karakter si anak juga demikian. Bila dibandingkan dengan Roberto benigni di film Life is Beautiful dimana ia ikut menjadi anak-anak, saat berdialog dengan anaknya. film ini lebih condong ke Old Man and Sea dimana pria tua memberi kisah-kisahnya pada si anak nelayan, dengan caranya sendiri, dan menjadi dirinya sendiri.
Film Clint Easwood seringkali langka adegan sumbang, namun kali ini justru adegan Sherif texas ranger yang ia perankan yang justru kurasa sumbang. seolah hanya jadi kameyo saja.
Aku senang melihat cara Kevin Costner (sebagai Butch si bandit) bercakap kepada Phillips, si bocah. Betapa ia mendengarkan dan menganggap si bocah sebagai rekan setaranya, bukan sekedar anak-anak yang biasanya tidak dipercaya untuk dilibatkan. Aku pun senang dengan cara Phillip secara berani turut terlibat meski jauh dekapan ibunya, dan berani 'mengingatkan' Butch yang telah terlalu kelewatan bertindak. Itulah pertemanan, kurasa. adanya kesetaraan, kejujuran; demokrasi.
Film ini membuatku terharu terisak karena tengah mendorong pikiranku, bahwasanya sebenanrnya rasa takut itu diajarkan kepada anak-anak, bukan milik anak-anak. sebenarnya anak-anak itu sejatinya ialah para pemberani. 'Courage'. itulah kesamaan Butcher dan Phillips, yang sehingga merekatkan mereka berdua. berani bertindak yang mereka percaya benar, berani bertindak seperlunya.
Kira-kira begitu.
semoga tulisanku ini membari manfaat pada pembaca.
Alhamdulillah, minimal aku tidak lagi merasa started nothing.