Kamis, 08 Desember 2011

memberi



mencoba memahami anda

tulisan yang akan saya buat ini sebenarnya belum tergodog matang, sehingga mungkin akan sulit dipahami bagi pembaca. namun saya merasa harus menyarakan ide dikepala saya, agar beban di otak berkurang satu.

'memberi' menciptakan kebahagiaan tak terjelaskan kepada pihak pemberi maupun penerima.
menurut pandangan saya, ada 2 jenis pemberian dilihat dari niat pemberi. Pertama, memberi sesuatu yang milik kita, sehingga menorehkan kepada objek pemberian/kado sebuah identitas kita. dengan demikian, penerima memiliki sebagian kecil diri pemberi setelah mendapat kado tersebut. pemberi pun merasa bahwa penerima menjadi bagian dari diri kita. Tujuan yang jenis ini ialah membuat diri sendiri senang.
yang kedua, memberi sesuatu sesuai dengan kebutuhan penerima. Hal ini teramat sulit menurut saya, sebab kita harus lebih dulu mengenal, memahami, bahkan menjadi diri penerima untuk mengetahui kebutuhanya. tujuannya adalah membuat penerima senang.
tentu tidak dapat disamakan memberi kue tart atau memberi sedekah, bukan sekedar simbolisasi normatif, melainkan lebih intim dan personal. meskipun seringkali menyebabkan sok tau atau salah paham. sebab sangat sulit (bagi saya) kita mereduksi diri untuk melakukan relativitas terhadap kebutuhan penerima.
memberi itu tidak mudah, seingat saya, saya belum pernah melakukan pemberian jenis ke-2.

lalu, bagaimana jika, sebagai penerima tidak mendapat rasa senang saat pemberi telah berusaha memberikan sesuatu yang diinginkan oleh penerima sendiri? atau tidak lagi merasa senang seperti pemberian pemberian sebelumnya?
apakah karena penerima tidak lagi membutuhkan? sehingga pemberi salah paham?
apakah niatan pemberi sudah melenceng? bukan karena ingin membahagiakan penerima, tapi justru membahagiakan diri sendiri?
apakah penerima mengharapkan lebih sehingga pemberian terasa tidak berharga?
apakah faktor objek pemberian. yang ternyata kurang berkualitas?
entah.
aku merasa jahat telah menulis (memikirkan) hal ini. sebab yang kutulis bukan tentang ku, tapi tentang "kalian", atau "mereka". ini sama sekali bukan urusanku. aku salah terlalu melibatkan diri.

ah. tidak semua hubungan beri-memberi sesulit yang kupaparkan.
Beruntung bagi pasangan pemberi-penerima yang ada dalam situasi dimana yang dibutuhkan penerima adalah hal yang pemberi inginkan untuk menyenangkan dirinya sendiri. sehingga keduanya tidak perlu melibatkan ikhlas, agar mendapatkan kebahagiaan.

hm..beruntungkah? sebab keduanya melewatkan mempelajari ilmu ikhlas.

sekian.

PS: entah mengapa hal-hal semacam ini(sangat pribadi) terus mengisi kepalaku. seandainya aku bisa lebih membuka mata dan telinga, sehingga hal-hal lain yang menyangkut kepentingan orang banyak (sebanyak-banyaknya) dapat kupikirkan dan kuperjuangkan untuk kupikirkan.. sehingga aku bisa berguna telah hidup di bumi.


Sabtu, 26 November 2011

kompromi


"Please don't expect me to always good and kind and loving. There are times when I will be cold and thoughtless and hard to understand."
kira-kira begitulah pesan yang kutangkap dari pemaparannya malam itu. sesuatu yang membuatku gentar. sebab aku merasakan hawa-hawa dia akan pergi jauh dan lama, bila aku tidak mampu menghangatkan dan melunakkan hati(?)nya.


Pertentangan kami kurasa adalah karena hal medasar. karena aku perempuan, dan dia bukan. teringat aku dengan 2 film yang sangat berbeda, tapi sebenarnya mirip bagiku. idenya sama-sama berangkat dari membunuh kebosanan. yakni film
dan Lost in Translation http://www.imdb.com/title/tt0335266/.

sebenrnya aku menikmati film Taxi driver, kisah tentang seorang pemuda (Robert de niro) insomnia yang tidak bisa menahan bosan di malam-malamnya, sehingga ia memutuskan untuk menjadi supir taxi. dalam film digambarkan hidup pemuda ini disinggahi oleh kisah-kisah para pelanggan taksinya yang beraneka ragam. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang gadis muda tuna susila yang sedang bertengkar dengan mucikari nya. dan dihari yang berbeda, de Niro kembali jumpa dengan sang gadis yang berujung dengan keputusanya untuk "menyelamatkan" sang gadis dari lingkunganya. kisah semakin seru saat de niro telah memutuskan tujuanya dalam hidup : mengemban misi penyelamatan. dengan adegan yang berkisah persiapan de Niro, film bergulir dengan banyak kekerasan dan berpuncak dengan adegan baku tembak dan endinya De Niro berhasil meyelamatkan sang gadis (kalau tak salah diperankan jodie Foster) physically.
setelah menonton film ini aku menyadari bagaimana pria memandang wanita, dan bagaimana pria memandang dirinya sendiri. Dalam kisah itu aku merasa perempuan dijadikan sebagai objek, yang harus diselamatkan, dibelai dan disayang. Benarkah? sebodoh itukah perempuan sehingga kami tidak dapat menyelamatkan diri?
kita harus melihat ekspresi sang gadis setelah diselamatkan, baru kita bisa tahu jawaban pertanyaan terakhirku.

perempuan bertindak sesuai perasaan, bukan logika. semua orang tahu itu. tapi apakah semua orang faham?

Lost In Translation. mengisahkan scarlett johanson yang kesepian dalam kebosanan saat ia mendampingi suaminya ke Tokyo untuk bekerja. Bosanya mati setelah ia bertemu seorang pria baya yang jugaingin membunuh bosan nya sendiri. sepanjang film diisi dengan kesempatan-kesempatan mereka bersmain bersama menyusuri kota Tokyo tanpa bisa sama sekali berbahasa jepang. Betapa....mendalam, bagiku. meskipun tidak seheboh menyelamatkan seorang gadis, menurutku film ini lebih baik sebab adanya pemahaman antara scarlett dan pria baya dalam menjalani kebersamaan keduanya. aku bahkan ingin menjadikan adegan-adegan dalam film ini menjadi salah satu bagian hidup singkat(atau panjang)ku.
hidup telah terlanjur bergulir, tidak ada niatan untuk berbelok, yang ada hanyalah menambal yang bocor. struktur hidupku sudah terbentuk, tidak mau ada dorongan mengubah.
aku senang scarlett tidak akhirnya kabur bersama Pria baya, walau sepanjang film aku melihat merasa ada sesuatu tumbuh diantara keduanya. Sejujurnya, aku berprasangka akan ada adegan2 yang tidak penting, karna mengingat peran2 scralett johanson di film-filmnya kebanyakan. tapi ternyata film ini tergarap bersih dan rapih.

belakangan baru aku ketahui, ternyata director Lost in translation itu wanita : Sofia Capolla. sedangkan director taxi driver itu seorang pria. ah. begitu ternyata perbedaan perempuan melihat dunia dibanding yang bukan perempuan.

demikian. semoga kita bisa saling mengerti dan mengalah, supaya terwujud perdamaian bersama. Dan tentang prolog yang mendasari sentilan yang berujung tulisan ini, kupikir tidak perlu dibahas disini.

Sabtu, 01 Oktober 2011

tersesat lagi

singkat saja. ada beberapa hal penyebab aku tersesat lagi.
yang pertama adalah, aku menutup telinga dan mata dari apa-apa yang tak ingin kudengar dan kulihat. parahnya lagi, aku mulai menutup hati dari apa yang sebenarnya kurasakan tanda-tanda keburukan akan datang.
yang kedua, aku melukiskan kesenangan secara palsu. senang terhadap sesuatu yg kita buat,karna orang lain menilai baik atas perbuatan kita. padahal sebenarnya aku tidak senang dengan perbuatan tadi. intinya, kadar kesenanganku adalah untuk menyenangkan orang lain. salah besar.
yang ketiga, melupakan diri sendiri. sangat fatal jika dalam perjalanan menuju kematian ini kita lupa akan siapa diri kita, sebeb dalam diri kita, justru kita bisa melihat Pencipta kita berkuasa atas segala sesuatunya.
sofia.. bertahanlah.
berpikir jernihlah. orang-orang yang kau sayangi dan menyayangimu adalah yang dekat denganmu. kamu nggak perlu paksakan mereka semua selalu dekat, karena justru bukti akan muncul dengan sendirinya.
bebaskan dirimu, bebaskan semua orang-orang yang kamu sayangi. bebas.

...

aku suka sekali membaca buku cerita, menonton film, membaca sajak, mendengarkan susunan musik, dan melihat lukisan. aku juga suka melihat sekitar. intinya aku suka "membaca" cerita. kali ini aku sedang membaca ceritaku sendiri. mengedit yang kurang sesuai, membuat alternatif ending, memaksakan karakter supaya dirasa tepat dan indah.
aku lelah.
yang kubuat adalah cerita untuk orang lain. aku terlalu banyak keinginan.
yasudah biarlah, yang sudah terlanjur biarkan saja, sekarang adalah saat untuk kembali menyesuaikan dengan keinginanku.

aku ingin bebas, membebaskan, dibebaskan.
terserah orang lain ingin apa.

Senin, 11 Juli 2011

bercerita

aku sedang penasaran akan rahasia seorang teman. dan saya dalam usaha untuk membuatnya bercerita.
usaha sulit nan siasia ini membuatku ingat akan kisah Happy go Lucky http://www.imdb.com/title/tt1045670/ dalam salah satu adeganya. dikisahkan Poppy seorang guru tk mendapati salah satu muridya menghajar anak lain dengan beringas. Poppy segera melerai dan "mendakwa" sang murid. dia berusaha mengorek apa yg tengah terjadi pada muridnya sehingga berkelahi dengan murid lain? kepala sekolah pun turun tangan, namun berujung sia-sia. sang murid enggan bercerita.
sampai akhirnya diundanglah seorang petugas sosial yang menangani masalah2 psikologis anak semacam tersebut. lalu, yang dilakukan petugas ini adalah segera menanyakan tentang keluarganya. ibunya, ayahnya, 'teman' ibunya... usaha pun bergulir lambat namun membuahkan hasil. akhirnya sang murid menjawab satu per satu pertanyaan.
yang menarik buatku adalah sang anak "diintrogasi" sambil diberi kertas gambar dan krayon. secara bawah sadar sang anak ini menggambar sebuah rumah dengan 2 jendela persegi dan sebuah pintu di tengah menengahi 2 jendela. dengan sabar petugas sosial bertanya:
p: siapa yang ada di ruang tamu? (padahal dalam gambar itu tiada terlihat ruang dalamnya)
m: ibuku
p: kau ada dimana?
m: disini (menunjuk salah satu jendela)
p: lalu kau bersama siapa?
m: sendirian
p: dimana 'teman ibumu' berada? apakah di kamar ini? (menunjuk jendela satunya lagi)
m: iya
p: mengapa kau tidak satu ruangan bersama dia?
m: tidak, aku tidak mau.
p: kenapa?
m: dia suka memukuliku.
...
demikian, aku terpesona ketika sepotong gambar dapat menjawab semua pertanyaan.
kini aku berharap bisa mendapat tuturan cerita lengkap dari temanku. sayangnya dia bukan anak-anak.

Kamis, 23 Juni 2011

renang (II)

drama banget sih hidup, najis.

Senin, 13 Juni 2011

partner

sebelum memulai tulisan ini, aku sempat berpikir, kreativitas akan muncul ketika ada masalah. menulis aku kategorikan sebagai salah satu proses kreatif, dan ternyata aku jarang menulis tahun bekangan ini. apakah aku jarang mendapat masalah? ataukah aku jarang berhasil memecahkan masalah? nampaknya yang poin ke-2 yang lebih tepat.

Dig
pernahkah kau merasakan menjadi orang baik dan menjadi orang jahat di satu waktu yang bertepatan? kemudian seorang rekan datang menggali kedalam hatimu bukan untuk mengaduk aduk perasaanmu melainkan memilah antara kejahatan dan kebaikan, lalu mengeluarkan hal-hal buruk dari dalamnya sehingga yang tertinggal hanyalah perasaan positif? pernahkah kamu melakukan hal serupa terhadap rekanmu?
ini adalah suatu permainan yang sangat layak. namun aku belum pernah berhasil saat melakukanya lebih dari berdua.

Driven
pernahkah ketika kau melakukan sesuatu yang sangat membahagiakan, tapi harus kau hentikan karena terdorong oleh norma dan pandangan lingkungan yang ada?
sungguh, ternyata suatu sistim aturan ini cara kerjanya adalah menyetir kita untuk beraturan, aku tiada kekuatan untuk melakukan pilihan. kata orang hidup adalah pilihan? ya, hidup adalah pilihan: mau masuk atau tidak kedalam sistim ini? sekali masuk, sulit untuk keluar. atau mungkin aku kurang keras mencoba dan terlalu mudah menyerah. tapi tenanglah, aku selalu punya mimpi untuk keluar dari sini. tapi sendirian memang terlalu berat.

Climb
pernahkah kau menonton film Flipped : http://www.imdb.com/title/tt0817177/? dalam film ini ada suatu kisah tentang pohon ara tua yang selalu dipanjat oleh Jiliana, dan gadis itu sangat mencintai pemandangan yang ia lihat dari atas pohon. kupikir aku bisa merasakan gadis itu, karena aku punya genteng rumah yang sangat mudah untuk dipanjat.
sekedar intermesso, sudah lama aku jarang memanjat keatap genteng ini, tapi setiap kali aku melakukanya, perasaanya selalu sama, meskipun merapi sudah ketutupan dengan saphir square, meski pohon besar di kelurahan itu sudah tinggal tampak pucuknya karena tertutup rumah2 tetangga baru yang tingkat2, meski perbukitan di timur tertutup oleh mangga tetangga yang tidak pernah dipangkas. aku tetap merasa sangat dekat dengan langit.
yah, kita harus punya suatu tempat yang bisa kita panjat setiap harinya supaya bisa merasakan diri kita.
pernahkah kau menjadi sebuah pohon, atau sebuah genteng atap, atau sebuah gunung, yang dipanjat dan orang bisa melihat langit dengan jelas? well, itu sama perasaanya seperti ketika kita kita yang memanjat ke atap.

sekian

Selasa, 15 Maret 2011

dosa

ketika hormon mengendaalikan seluruh diri
ketika dosa pertama ditunaikan sukarelaa seakan lambang kebebasan
ketika nurani akal nafsu berperang tak gentar tanpa gerilya
saat itulah ahir asuransi keselamatan

orang bilang, hidup adalah pilihan, aku bilang hidup adalah cobaan
orang bilang, hidup adalah untuk mencari kebahagiaan, aku bilang hidup adalah mencari keselamatan

----
tiba tiba reni datang dan menghampiriku "sof, mau cek email dong"
aku pun kehilangan kata-kata untuk melanjutkan warta ini.
----

sekian dulu