Pura pura mati, si pemarah melanjutkan permainanya. Bersama teman khayalanya, ia beradegan seru. Ia sangat gemar pura-pura mati ditembak. Tapi kali ini bukan. Ia mati serangan jantung. Tanpa darah, tanpa organ berceceran.
Tak minat ia dengan panggung. Ia lebih senang bermain sendiri, dengan kawan setianya. Duet mereka.
Tak pernah ia kursus akting. Tak pernah pula tergabung dengan teater. Bukan, ia bukan orang kebanyakan. Ia juga bukanya orang luar biasa. Tapi yang jelas, dia orang.
Setiap saat ia berdrama. Romantika, jenaka, satire, semua ia mainkan. Tapi ia benci memainkan adegan misteri, sebab saat itu ia merasa paling dekat dengan kenyataan. Sedang ia benci kenyataan.
Dalam mimpi pun ia ber akting. Berpura-pura.
Si pemarah adalah julukan yang diberikan orang-orang padanya. Bukan, bukan karena ia gemar berteriak, bukan karena hobi mengumpat, memojokkan, membanci, menyalahkan, bukan. Ia dikatai si pemarah adalah karna hanya dengan julukan tersebut ia mau menoleh jika dipanggil.
Ia tak pernah berhenti bermain karena dalam mimpi pun ia bermain.
Berpura-pura.
Kalau ditanya, siapa sebenanrnya si pemarah? Jawabanya tidak akan terbit. Karena kebenaran itu tak ada bagi si pemarah. Yang ada keseluruhanya ialah pura-pura.
Gila? Kau anggap dia gila?
Maaf, tapi pendapatmu tak ada pentingnya. Tak ada yang lebih penting dari pada melanjutkan kepura-puraan ini. Sampai bosan pun. Sekali pun.
1 komentar:
cops, numpang nyepam :p
blog baru ehehe.
lorettaollich.blogspot.com :D
Posting Komentar