Selasa, 31 Januari 2012

Buku Bagus


KULIAH TAUHID

Oleh Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrohman


Aku baru membaca sebuah buku bagus, aku ingin berbagi sedikit ilmu yang buku tersebut beri padaku. Semoga bermanfaat bagi pembaca. Sekilas buku ini adalah rangkuman Kuliah Subuh Rhamadhan 397H di Masjid salman ITB. Demikian singkatan isi PENDAHULUAN nya:

(Latar belakang terjadinya ketidakstabilan pemahaman ummat akan makna tawhid)

Semasa Rosululloh hidup, beliau mengajarkan ilmu tauhid dengan cara memberikan contoh secara langsung yang beliau terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sesungguhnya kamu dapati pada diri Rosululloh itu terpuji bagi mereka, yang menaruh harapan kepada Alloh, dan yakin pada hari akhir, dan senantiasa terkenang Alloh (Q 33:21).

Setelah Islam berkembang ke segala penjuru, maka buku-buku ilmu pengetahuan di Negara Persi, Yunani, dll mereka terjemahkan dan mereka pelajari. Disana ada pula yang menyesatkan namun karena semangat kebebasan berfikir yang telah diajarkan oleh Rosululloh maka intelektual muslim terus maju dan menguak pemikiran baru yang orisinil dan cemerlang. Tawhid yang merupakan intisari ajaran islam menjadi pembahasan di kalangan cendekiawan.

Sayangnya, terjadi perubahan sistim ketatanegaraan menjadi berupa dinasti yang feodalis, dimana sistim tersebut merupakan darah dagingnya masyarakat Arab Jahiliyah. Perubahan sistim berawal dari 1. Perbedaan pendapat , berkembang menjadi 2. Pertentangan faham konsep kepemimpinan, akhirnya meledak menjadi 3. Perang saudara. Pasca kematian para generasi sahabat dekat Rosululloh, maka perang saudara ini tidak ada yang bisa meredam. Sistim feodalisme tidak mampu mengawal perkembangan daya kritis cendekiawan muslim, apalagi territorial semakin lebar dan kwantitas masyarakat makin bertambah. Perbedaan pendapat disalahgunakan sebagai kepentingan politik. Terjadi perpecahan di bidang aqidah dan nilai-nilai syari’ah. Mulai terjadi fenomena ‘mengkafirkan’ suatu golongan. Umat yang masih awam semakin bingung dan perpecahan tersebut yang melemahkan umat itu sendiri.

Penafsiran ayat tidak lagi tergantung pada kebenaran objektif . kemudian, jika ada ‘ilmuan yang berani istiqomah(konsisten) dengan pendapat mereka akan mengalami penyiksaan luar biasa. Dan dalam masa tahanan, para pendekar ilmu tersebut dicabut hak berpendapat (tidak boleh menuliskan pemikiran mereka).

Ummat yang makin lemah mengakibatkan kekuasaan jatuh kepada penjajahan negri-negri Kristen dari Barat. Mereka menjajahi moral dan mental umat sedemikian parah sehingga mayoritas umat kehilangan harga diri dan kepercayaan akan diri sendiri.

Dengan demikian, pendidikan Islam tidak lagi terarah pada penghayatan dan penalaran nilai-nilai islamyang sebenarnya penuh dinamika , dan berubah menjadi pengulangan-pengulangan formal akan nilai-nilai penurunan yang sudah membeku dan kaku.

Mulai terjadi kebangkitan umat mulai abad 15, sebagai reaksi terhadap tekanan yang sudah melamapui batas daya tahan kemanusiaan. Mulai muncul kebutuhan akan ilmu/buku-buku mengenai uraian masalah pokok dan dasar dengan pendekatan yang sesuai dengan pemikiran zamanya.

(Makna mentawhidkan Tuhan yang tepat)

Sekedar percaya akan wujud Tuhan belum cukup menjadikan seseorang itu Islam. Karena kepercayaan akan adanya Tuhan sudah muncul sendirinya dalam hati. Tanggapan manusia lah yang berbeda-beda akan kepercayaan terhadap Tuhan. Bangsa komunis sendiri pun memuja pahlawan-pahlawan mereka yang telah gugur. Masyarakat yang belum modern pun menyembah Raja mereka dan juga benda-benda alam lainya yang dianggap Agung. Bahkan masyarakat muslim juga memberikan sebutan Saidina untuk Rosululloh(yang segera menegur dan melarang sebutan tersebut).

Hal ini dikarenakan memang sudah watak manusia ini penyembah. ‘Tidak kuciptakan jin dan manusia, melainkan untuk mengabdi kepadaKu’ (Q 51:56). Alasan terjadinya kekeliruan dalam memahami sesembahan ialah karena kurang mampunya umat Islam menerangkan nilai-nilai Islam kepada dunia.

Iblis sendiri sebenanrnya mengakui wujud Alloh sebagai Tuhan. Kealahan iblis ialah ia telah menyombongkan diri dengan membanggakan asal-usul/keturunanya yang diciptakan dari api, sedangn manusia dari tanah. Penyakit kibir (membesarkan diri) ialah penyakit yang sengaja ditularkan iblis kepada manusia. Gelar-gelar bangsawan seperti raden (Jawa), tengku (Sumatra/Malaysia), bahkan sayid (mengaku keturunan nabi) seringkali dipentingkan dalam masyarakat saat ini. Ditambah apabila masyarakat yang memiliki jiwa budak/nrimo, yakni tidak memiliki kemampuan kebebasan berfikir/ kurang kritis, akhirnya para bangsawan ini mengukuhkan hak-hak istimewa mereka dengan berbagai cara.

sikap nrimo ini termasuk watak tercela dalam Islam. ‘Jangan ikuti apa yang tiada kamu ketahui. Sungguh pendengaran, penglihatan, dan perasaan hati, masing – masing akan dimintai pertanggungjawabanya.’ (Q 17:36)

Jadi, sekedar percaya wujud Alloh itu belum cukup. Yang paling utama ialah kepatuhan yang bulat hanya kepadaNya. Yang berarti bahwa meletakkan Alloh dan semua perinyahNya diatas segala-galanya, terutama diatas kepentingan dan keinginan pribadi.

Mentawhidkan Alloh membutuhkan berjuangan berat, dan kemampuan menghayati sikap tawhid secara tetap/konsisten merupakan prestasi yang paling mulia.


Demikian isi pendahuluanya. Selanjutnya dalam buku tersebut diberitahukan :

  • mengenai pengertian tawhid (peranan akal & rasa untuk mencapai tawhid, definisi Tuhan)
  • mengenai lawan tawhid yakni syirik & musyrik (tuhan popular masa kini : harta, tahta, syahwat; Rokok sebagai Tuhan; 2 pribadi panutan: Ibrahim AS dan Muhammad SAW)
  • mengenai contoh pribadi tawhid dalam sejarah (Khalid bin Walid; Umar bin Khattab)
  • mengenai hal-hal perusak tawhid (riya’; ananiah/egois, takut dan bimbang, zhalim, hasad/dengki)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Unknown message