tapi lama kelamaan risih juga aku memandang.
apalagi kalo aku mengingat waktu aku les archicad sama gupi di tempat les-lesan selatanya sgm. deket gembiraloka jogja. aku diajar oleh pak tentor yang berlatar belakang sarjana teknik sipil-struktur bangunan konstruksi. beliau mengajarkan kami membuat rumah dengan rancangan beliau sendiri. rasanya semua orang jadi bisa membuat desain dengan mudahnya dengan software.
lalu saat aku nonton acara bedah rumah. bagus sih, 'menyulap' rumah yang tadinya beralaskan tanah dan kumuh lalu direnovasi jadi bertampilan menarik dan bersih. tapi ada proses yang tidak dilakukan tim bedah rumah. sungguh aneh, setiap renovasi yang mereka buat itu rata2 sama semua. dapur dengan kitcen set, semua lantai di keramik, tapi mereka nggak memikirkan bagaimana dengan aktivitas yang dilakukan oleh pemilik rumah yang 'sesungguhnya'
maksud saya begini.
di gambar ini kita lihat kalau dapur ini nggak memiliki ubin. didndingnya dari anyaman bambu (gedheg) dan terdapat meja pendek lebar yang digunakan menampung perkakas rumah tangga. terdapat tungku untuk memasak dengan bahan bakarnya kayu bakar.lalu dapur-dapur ini dsulap menjadi :
dapur dengan kitchen set lengkap, ada sink, kompur gas, almari yang diletakkan diatas kepala. looks nice memang.pertanyaan saya adalah, apakah dapur yang kedua merupakan solusi? sebenarnya, apa masalah dapur yang pertama?
apakah tim bedah rumah mikir kalo sebagian besar orang yang menghabiskan waktu di dapur adalah ibu-ibu dan anak perempuan? bakalan nyampe nggak si ibu-ibu ini kalo mau ngambil barang-barang di lemari gantung diatas kepala itu? lalu, ukuran sink yang cuma bisa buat cuci piring dan sendok. bagaimana kalau profesi dari pemilik dapur adalah usaha catering yang membutuhkan panci-wajan jumbo untuk masak? mana muat?
lalu kompor dengan tungku yang bisa saja menggunakan bahan bakar sampah organik/non organik.kalau menggunakan kompur gas, mau dikemanakan sampah2 itu? harus dibuang dan dibahkar percuma. lalu suhu ruangan lantai keramik dan tanah, sebenarnya lebih nyaman yang mana?lebih baik yang mana?
jawaban yang sebenarnya saya kurang tahu. yang mengetahui jawaban pasti adalah pemilik dapur.
anehnya, setiap kali renovasi, hasilnya sama semua. tidak mencerminkan pemilik rumah sama sekali. saya jadi ragu, sebenarnya saat orang berpikir mereka merenovasi rumah, ternyata sesungguhnya mereka hanya mendekor rumah. atau saat orang mengira sedang merancang rumah, sebenarnya hanya membuat prakarya dekor.
ini hanya pemikiran seorang mahasiswa bau kencur. dan melihat dari sudut pandang sangat subjektif. sungguh merasa terhormat apabila ada yang memberi jawaban kebenaran dari pemikiran saya, atau sekedar memberi tanggapan. sudah lamaaaaaa sekali saya tidak posting.hhaahaa.
5 komentar:
soalnya yang nonton bedah rumah adalah orang awam dan demi kepentingan komersil... mungkin visi acara bedah rumah bukan di bagian rancanganya tapi di bidang sosialnya yang ditonjolin. mungkin
*sotoy.
hehe,,,,
iya gel. setuju kalo yang ditayangin di tipi itu komersil.
okelah kalopun visinya mereka emang di sosial, tapi apakah solusinya tepat sasaran? karna menurut eke caranya aja keliru.
copey
wedew copeeyy
btw aku jadi ingat metoda pemrograman arsitektur yang bikin eneg,
sebelum merancang didata kebutuhan menurut klien sama kebutuhan sesungguhnya si klien, arsitek yang punya pikir
(bahasa ne malaysia tenan)
nek bedah rumah ketoe muk digawe podo njuk habis itu di shooting dengan lampu2 lebay biar ketok apik gak sih
liat commentya kok malah bahas bedah rumah....??? bicara tentang bedah rumah *malah nimbrung*, menurut ane siy, mereka malah meng eksploitasi orang2 yang kurang mampu kek gitu deh...dengan siaran seperti itu 'mereka' menaikan rating siaran tv 'mereka'....
ah, saya suka tulisan ini, bikin saya mikir; benar juga ya. jadi ingat tugas-tugas studio desain saya yang selalu saya kerjakan dengan mbuh-mbuhan...
ahaha,
btw, hai copey, ini fia,
blogwalking...
Posting Komentar