Kamis, 04 November 2010

keluhan

baru kali ini saya merasakan bagaimana saat salah seorang staff di bidang yang kini dikepalai olehku dianggap tidak becus oleh orang lain.
aku sebal sekali dengan orang lain itu. dia membuat seorang staffku merasa sedih tak berguna.
dia mengeluh pada staffku karena sebuah proker acara lecture yang akan dimentori olehnya selalu ditunda setiap minggu. dan staffku inilah penanggung jawab acara.
okelah ini mungkin hanya masalah komunikasi. dan detil permasalahan dan pembelaan nampaknya tidak perlu saya ceritakan disini.

namun yang saya renungkan adalah,
betapa saya jauh lebih sakit hati ketika anak buah saya disepelekan daripada saya yang dilecehkan. mau orang nyoret2 foto saya di mading, mau orang ngelecehin saya lewat surat, mau orang ngecengin saya sampai lebaran kuda, rasanya tidak sesakit hati ini. rasanya saya tidak sepeduli ini.
mungkin... karena saya paham seberapa giat para staff bekerja, saya yang mengarahkan apa-apa yang harus dilakukan, sehingga saya mengenal setiap karakter kerja staff yang mencerminkan cara kerja saya. sebersit saya membayangkan, apakah ini mirip seperti proses ikatan antara orang tua dan anak.

kemudian, saya tidak habis pikir. betapa seorang yang merasa (dan memang) dewa dalam suatu bidang dan (mungkin) sudah merasa profesional, sehingga tidak merasa setingkat bekerjasama dengan sebuah tim yang kurang profesional. lalu dengan mudah mengeluhkan kinerja yang lain karena keleletan dan keteledoran yang lain. saya jadi bingung sesungguhnya apa itu profesional.
katanya, proffesional itu adalah orang yang ahli di bidangnya.
jadi ketika saya meminta seseorang yang profesional menjadi mentor dalam lecture yang terkait dengan profesinya, itu adalah salah. karena dia adalah profesional, bukanya mentor. tidak ada semangat mengajar dalam dirinya. target yang saya inginkan(bahwa audiensi akan memahami lecture) tidak akan tercapai.
lain kali kalau saya akan mengadakan lecture, maka saya akan mencari orang yang berkompeten dan berniat mengajari dan profesional.

sudah.

3 komentar:

Catatan Rahmia mengatakan...

jadi pemimpin memang tdk mudah cop. saya pernah mengalami hal yang kamu rasakan. luka di tangan sendiri tak lebih sakit dari luka di tangan sahabat yang selalu bekerja keras membantu.
kadang, berbicara jauh lebih mudah. seringkali, menyalahkan orang lain jadi pilihan paling menyenangkan.
maka, kita harus punya metal sekuat baja, harus terus saling menghargai.
boleh kesal hari ini, tunjukkan seberapa kita ingin memperbaikinya esok hari..

Anonim mengatakan...

mia berubah



Gupi

annisanican mengatakan...

--..--
saya pun kesal dengan orang yang sok (dan memang) hebat ini. *nambah2in :p