Rabu, 30 Juni 2010

imajinasi semata

seandainya di dunia ini tidak ada uang.

pada jaman dahulu, sebelum ada uang ada sistem tukar yang namanya barter. mungkin bu umi guru ips sd sapen pernah ngasih tau, cuma aku nggak ingat. seingatku aku tahu sistem ini karena baca buku ensiklopedia wwp anak-anak.
nelayan menukar ikanya dengan sayuran. begitu kta si buku.
bareter digunakan untuk memenuhi kebutuhan. nelayan yang tinggal dipesisir pastilah tak bisa menanam bayam, demikian petani yang hidup di ladang tak bisa memancing cucut. jadilah mereka saling bertukar.
kenapa jadi ada uang?mungkin ada beberapa cerita,
Suatu hari nelayan ingin makan sayur,namun kali itu ia tak berhasil tangkap ikan untuk dibarter,cuaca mendung,katanya. jadilah nelayan naik ke desa untuk mencari sayur sesampainya didesa,ia meminta sayur pada petani. namun si petani tak mau memberi, karena tak ada ikan untuknya. karena demikian, maka si petani memberi 3 butir batu, sebagai tanda ia telah meminta sayur. suatu hari nanti, nelayan berjanji, saat telah berhasil menangkap ikan, 3 buah batu tersebut dapatdigunakan sebagai tanda untuk mengambil ikan miliknya.
dan jadilah benda tertentu digunakan sebagai nilai tukar sampai saat ini. dinamakan uang.

atau,

suatu hari nelayan ingin makan sayur. maka ia membawa hasil laut yang paling baik, yakni ikan trout ke desa. ia berharap segera mendapat pepaya yang segar karena akhir-akhir ini ia tak lancar ke wc. ia juga berharap bisa meminta selada segar untuk dimasak istrinya dengan teri nanti dirumah.
sampai ke desa, ia langsung menemui petani.dan diutarakan maksudnya yang ingin barter. tapi sungguh sial. petani baru hanya memanen kecambah dan daun singkong saja.
tapi apa boleh buat, ia dan keluarganya dipesisir ingin makan sayur supaya baik pencernaanya.
nelayan berpikir, ikan trout tidak sebanding dengan kecambah. akhirnya ia memutuskan untuk membuat kesepakatan.
1 ikan trout disamakan dengan 5 buah kerikil.
semangkuk kecambah disamakan dengan 1 buah kerikil
karena itulah mereka menggunakan alat tukar supaya penukaran bisa lebih adil.
dengan kesepakatan itu, petani meyerahkan kecambah,dan 4 butir batu yang suatu hari nanti bisa ditukar dengan sayuran yang lebih baik.
dan sampai sekarang uang tetap menjadi alat tukar.
dan bertambah fungsi sebagai alat pengukur kekayaan. sedangkan kekayaan sebagai alat ukur status sosial.

apasih.
aku juga nggak tau.
maksudku begini,
barter yang tadinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan kemudian atas dasar landasan "KEADILAN" maka tercipta uang sebagai alat tukar.
tapi apa benar itu keadilan?
nelayan merasa ikan yang ia tangkap lebih susah daripada nandur kecambah, maka ia menuntut 'keadilan' itu.
tapi tunggu. ikan yang ia tangkap itu dari lautan milik Tuhan. cambah yang ditandur juga dari air segar pemberian Tuhan. jadi kan sebenarnya kita tak punya apa2. meminjam semata.
kalau petani perhati baik dan berpikir jernih. maka niatnya akan baik membantu sesama, sehingga ia akan membantu nelayan cuma-cuma.
tapi makin berkembang peradaban, muncul pasar sebagai tempat pertukaran, yang hanya menggunakan benda tertentu sebagai alat --> uang
aku kurang mengerti kenapa bisa terjadi begini apakah dilandaskan keadilan?
tapi Tuhan pun memerintahkan kita pergi ke pasar. mengajarkan kita jual beli pula. berarti memang kebutuhan manusialah berlaku adil. sebab aku pun tahu tidak semua manusia dibumi ini bisa mengendalikan hawa nafsunya. dan tidak semua berbuat baik.
keadilan dibutuhkan saat yang jahat menindas yang baik.

saat uang dengan sengaja dikumpulkan dan ditimbun. jadi untuk apa? untuk membeli yang ada diluar kebutukan kita. saat itulah uang menjadi bencana.

entahlah, tapi aku tau bahwa jaman sekarang SEMUA ORANG membeli apa yang sebenarnya TIDAK MEREKA BUTUHKAN. sejujurnya aku kurang mengerti kenapa kita semua melakukan ini.
misalnya.
saat ibu yang wanita karir setiap hari kekantor dan ga bisa mengurus rumah maka menggaji pembantu.
saat anak-anaknya tumbuh besar dan cukup bisa melakukan pekerjaan rumah, namun karena sang ibu punya cukup uang untuk tetap menggaji pembantu maka anak-anak pun tak punya skill mengurus rumah.
tidak bisa memasak untuk makan
mencuci baju untuk dikenakan lagi
merapikan rumah untuk ditinggali dengan nyaman.
padahal itu tadi 3 kebutuhan dasar manusia. tapi si anak tak bisa melakukanya sendiri. dan hancurlah si anak saat pembantu sudah tak bisa membantu lagi karena berumur. dan untuk mencari ganti yang baru itu sulit. sulit menemukan orang yang bisa dipercaya.
si anak harus beli makan, dan me laundry.
si anak yang telah tumbuh dewasa, tak bisa mencuci baju, maka mesin cuci menjadi kebutuhanya. padahal ia PUNYA TANGAN, ada air untuk membilas, ada cahaya matahari supaya kering segala pakaian. ada angin pula.
tak hanya mesin cuci, tapi kulkas, mobil,dll.
tak akan ada habisnya kalau bicara teknologi yang kabarnya lebig praktis. instan. cepat saji. semua benda-benda buatan manusia yang kalau kurasakan tidak terlalu penting.
aneh aku mengatakan ini karena aku mahasiswi teknik.
tapi memang dasar iklan tak ada kapoknya meracuni. membantu pasar untuk mempengaruhi manusia.

aku ini bicara apa. aku sendiri tak mengerti.

makin banyak hal-hal yang tidak perlu namun dihadirkan oleh manusia.semakin penuh bumi ini dengan benda-benda rakitan manusia. mau kemana perkembanganya. siapa yang sebenarnya memimpin? aku tidak tahu. tidak kenal. yang jelas aku tidak suka.
semakin susah aku melihat pemandangan alam yang Tuhan hadirkan kepada kita. semakin aku jadi lupa pada Tuhanku. padahal segala sesuatu yang alami ciptaan tuhan lah yang memebuat kita mengimani adanya Tuhan. seangkan kalau kita setiap hari memandang tembok, dan segala-galanya yang dirakit dimanipulasi manusia, kita jadi hanya ingat manusia saja.

tak tahulah.
aku merasa aku sepertinya pernah hidup di jamandahulu. jaman suku apache hidup damai di amerika selatan. atau mungkin sesungguhnya aku adalah bagian dari mereka?
aku juga kurang mengerti. yang jelas, aku sedih karena didunia ini ada uang.

6 komentar:

annisanican mengatakan...

copey, tampilan slide mu kok gambar nya porno coop..

Anonim mengatakan...

heheh
coba kamu baca doraemon yang judulnya andaikan di dunia ini tidak perlu uang

jadi semua orang yang beli barang malah dapat uang
yang kecopetan malah dapet segepok uang
makin banyak duitnya makin miskin

gyahahhahaha

Anonim mengatakan...

cop kamu tau g artinya dereistik..
ya kamu itu
hehe

copey lagi mengatakan...

waw, aku thanks, saya tersanjung dikategorikan punya pemikiran yang gila. gila sama jenius kata orang memang beda tipis. tapi menurut saya sama saja, hanya apakah pemikiranya diterima pada masyarakat saat itu atau belum (atau tidak).
Van Gogh itu gila
Einstein itu jenius.
mereka sama saja. sama-sama orang hebat yang jarang di bumi ini.
thx ya anonim.hhe.

*saya yaqin ini pasti mas Todi

PinguGoWhere mengatakan...

kayaknya aneh deh cop klw gak ada uang..tapi uang yang sekarang emang udah gak sesuai sama uang yang seharusnya..
nilai nominal sama nilai intrinsiknya udah beda jauh..,seharusnya gak gitu..makanya dinar tuh emas kan?soalnya nilainya relatif stabil..dan itu akan tetap berharga..klw uang skrg..,kira2 kertas si 100ribuan tuh brapa sih? mgkin 5 ribu aja gak nyampe..hahaha
klw aku udah belajar ekonomi syariah aku ngasih tw kamu deh..:)

copey lagi mengatakan...

uang yang sekarang emang udah gak sesuai sama uang yang seharusnya..

nah ini nih, kritik yang membangun, trimakasih anggita,kamu mengomtari dengan baik hati :)

sebenenrnya tujuan awal posting ini gara2 aku terbelit masalah duit,nggi, jadi ber tanya2 kenapa jadi tergantung bgt sama uang. seandainya kita nggak berkembang dan tetap seperti masyarakat jaman dulu, keinginan ga akan bertambah, jadi ga tergantung sama uang. hidup secukupnya saja..gitu2.